Jakarta, VIVA – Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan warna baru melalui film horor bertema budaya lokal. Kali ini, kisah dari tanah Sulawesi Utara diangkat ke layar lebar lewat film “Songko”, yang terinspirasi dari legenda masyarakat Minahasa dan Tomohon. Kehadiran film ini sekaligus menjadi langkah segar dalam memperkenalkan cerita rakyat Indonesia Timur kepada khalayak luas.
Film ini merupakan debut penyutradaraan Gerald Mamahit yang sebelumnya dikenal sebagai penulis skenario berbagai film horor populer. Bersama Rumah Produksi Santara dan Dunia Mencekam Studio, ia menghadirkan karya yang tidak hanya menonjolkan ketegangan, tetapi juga akar budaya yang kuat. Scroll ke bawah untuk simak artikel selengkapnya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Songko adalah cerita yang sangat dekat dengan budaya dan legenda masyarakat Minahasa. Kami ingin menghadirkan horor yang terasa autentik, bukan hanya menakutkan secara visual, tetapi juga memiliki akar cerita yang kuat dari tradisi lokal,” ujar Gerald Mamahit.
Film ini lahir dari gagasan untuk mengangkat potensi cerita daerah yang selama ini belum banyak tereksplorasi di industri film nasional. Santara berupaya menghadirkan pendekatan berbeda dengan melibatkan talenta lokal, baik di depan maupun di balik layar, sehingga nuansa cerita terasa lebih hidup dan dekat dengan realitas budaya setempat.
Dibintangi oleh Annette Edoarda, Imelda Therinne, Fergie Brittany, Tegar Satria, serta Khiva Iskak, film ini membawa penonton masuk ke dalam suasana desa yang diliputi ketakutan.
Bagi Khiva Iskak, pengalaman bermain dalam film ini terasa berbeda karena kedekatannya dengan latar budaya yang diangkat.
“Yang membuat film ini menarik adalah karena kisahnya berasal dari legenda yang benar-benar dipercaya oleh masyarakat. Saat menjalani proses syuting di Tomohon, suasananya terasa sangat kuat dan mendukung atmosfer cerita. Itu membuat pengalaman bermain di film ini terasa sangat intens,” ungkap Khiva Iskak.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Hal serupa juga dirasakan oleh Annette Edoarda yang menilai cerita Songko memiliki kedalaman emosi yang jarang ditemukan dalam film horor.
“Songko bukan hanya film horor biasa. Ceritanya tentang ketakutan, tuduhan, dan bagaimana sebuah desa bisa terpecah karena teror yang tidak mereka pahami. Itu yang membuat cerita ini terasa sangat emosional sekaligus mencekam,” kata Annette Edoarda.
Halaman Selanjutnya
Mengambil latar tahun 1986 di sebuah desa di Tomohon, cerita Songko berpusat pada serangkaian kematian misterius yang menimpa perempuan muda. Warga mulai percaya bahwa kejadian tersebut berkaitan dengan makhluk gaib bernama Songko, sosok yang diyakini mengincar darah suci demi mencapai keabadian.

3 weeks ago
10



























