Jakarta, VIVA – Fenomena child grooming menjadi ancaman serius di era digital karena sering kali tidak disadari oleh korban maupun lingkungan sekitar. Praktik ini merupakan bentuk kekerasan seksual terhadap anak yang dilakukan secara manipulatif, bertahap, dan terselubung dalam hubungan yang tampak wajar atau penuh perhatian.
Menurut Dr. dr. Ariani, M.Kes., Sp.A., Subsp. T.K P.S (K) dari Satgas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), child grooming adalah proses membangun kepercayaan dan kedekatan emosional dengan anak untuk tujuan eksploitasi seksual.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kasusnya terus meningkat, baik secara langsung maupun melalui platform digital. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 2.063 anak menjadi korban kekerasan sepanjang 2025. Sementara itu, LPSK melaporkan mayoritas korban kekerasan seksual juga berasal dari kelompok anak. Hal ini menegaskan pentingnya kewaspadaan, terutama dari lingkungan keluarga.
Berikut beberapa faktor dalam keluarga yang bisa menjadi “pintu masuk” bagi pelaku child grooming menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
1. Kebutuhan Anak yang Tidak Terpenuhi
Anak yang memiliki kebutuhan tertentu, seperti kurangnya perhatian, kebutuhan transportasi, atau pengasuhan tambahan, lebih rentan didekati pelaku. Dalam kondisi ini, pelaku sering datang menawarkan bantuan yang terlihat tulus, padahal memiliki motif tersembunyi.
2. Tekanan Ekonomi dan Masalah Rumah Tangga
Kondisi keluarga yang sedang mengalami stres, seperti masalah finansial atau konflik rumah tangga, dapat mengurangi fokus orang tua dalam mengawasi anak. Situasi ini dimanfaatkan pelaku untuk masuk dan membangun kedekatan dengan anak.
3. Orang Tua Sibuk atau Kurang Hadir
Kesibukan kerja atau keterbatasan fisik dan mental orang tua dapat membuat anak mencari perhatian dari orang lain. Pelaku grooming kerap memanfaatkan celah ini dengan memberikan perhatian ekstra yang membuat anak merasa nyaman.
4. Minimnya Dukungan Sosial
Keluarga yang terisolasi dan tidak memiliki jaringan dukungan yang kuat cenderung lebih rentan. Tanpa pengawasan dari lingkungan sekitar, interaksi mencurigakan bisa berlangsung tanpa terdeteksi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
5. Kurangnya Edukasi tentang Bahaya Digital
Di era media sosial, banyak orang tua belum sepenuhnya memahami risiko interaksi daring. Anak pun bisa dengan mudah terhubung dengan orang asing yang menyamar sebagai teman sebaya atau figur tertentu.
Halaman Selanjutnya
6. Kepercayaan Berlebih pada Lingkungan Terdekat

2 hours ago
1











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)
