Logam Mulia Ceria! Harga Emas Dunia Meledak Capai Rp82 Juta

1 week ago 6

Rabu, 15 April 2026 - 15:00 WIB

Jakarta, VIVALogam mulia menyedot perhatian dunia dengan menunjukkan taringnya sebagai instrumen investasi. Harga emas dunia melonjak lebih dari 1 persen didorong pelemahan dolar AS serta meningkatnya harapan tercapai kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Berdasarkan data pasar, harga emas di pasar spot naik 1,1 persen menjadi US$4.791,65 atau sekitar Rp 82,12 juta (estimasi kurs Rp 17.140 per dolar AS) per ons pada sesi perdagangan Selasa pagi, 15 April 2026. Kontra berjangka emas turut mencatat kenaikan sebesar 1 persen ke level US$4.815,40 atau sekitar Rp 82,53 juta per ons.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain emas, harga perak di pasar spot melonjak 3,3 persen menjadi US$78,09 atau sekitar Rp 1,33 juta per ons.

Penguatan harga emas dunia terjadi di tengah kabar bahwa tim negosiasi AS dan Iran berpotensi kembali melanjutkan pembicaraan damai di Islamabad, Pakistan, dalam waktu dekat. Harapan meredanya perang di Timur Tengah membuat tekanan inflasi berpotensi menurun sekaligus memberikan sentimen positif bagi logam mulia.

Logam mulia emas dan perak.

Photo :

  • The Economic Times

Analis pasar dari RJO Futures, Bob Haberkorn, menilai arah pergerakan emas ke depan akan sangat dipengaruhi perkembangan negosiasi AS dan Iran. Negosiasi perdamaian runtuh yang mencorong Washington untuk memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. 

“Arah pasar emas akan bergantung pada bagaimana jalannya pembicaraan di Pakistan dan sejauh mana progres yang dicapai menjelang akhir pekan. Jika ada kabar positif, harga logam mulia akan terus naik,” ujar Haberkorn dikutip dari CNBC Internasional pada Rabu, 15 April 2026. 

Ia menambahkan, kombinasi pelemahan dolar AS dan penurunan harga minyak saat ini turut menjadi katalis utama penguatan emas. Pelemahan dolar membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih murah bagi investor global sehingga daya tarik meningkat. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di sisi lain, data terbaru menunjukkan tekanan inflasi di AS mulai mereda. Harga minyak dunia masih tinggi akibat lonjakan terbaru akibat konflik geopolitik.

“Dolar yang lebih lemah dan harga minyak yang turun membantu emas. Saat perang dimulai, terjadi peralihan ke kas dan kekhawatiran soal pasokan energi,” lanjutnya.

Halaman Selanjutnya

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) hanya sekitar 25 persen tahun ini. Proyeksi ini lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebelumnya sebelum konflik memanas.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |