loading...
Imamul Masyhudi. Foto/Dok Pribadi
Imamul Masyhudi
Dosen Desain Komunikasi Visual Universitas Multimedia Nusantara
KEMARIN saya melihat di lini masa tentang betapa bahagianya para pemadam kebakaran hutan dan lahan ( karhutla ) ketika hujan akhirnya turun. Setelah sekian lama berusaha memadamkan karhutla yang cukup masif dari Agustus hingga September ini, hujan seolah menjadi pertolongan yang paling efektif. Ada rasa lega melihatnya sekaligus muncul pertanyaan, kenapa harus menunggu hujan?
Hal ini membawa ke pertanyaan yang lebih besar. Mengapa kita seperti selalu berulang kali menghadapi persoalan yang sama? Kebakaran hutan terjadi lagi, banjir terjadi lagi, longsor terjadi lagi. Kemudian kita sibuk membicarakan korban, kerusakan, penanganan, dan bantuan. Ketika semuanya reda, perhatian kita pun ikut mereda. Sampai suatu saat bencana yang sama datang lagi.
Di saat hutan di Sumatera, Kalimantan, hingga Papua terbakar, respons pemerintah tak luput dari sorotan. Khususnya pada beberapa gagasan penanganannya yang terasa cukup aneh bagi masyarakat.
Baca Juga: Korban Jiwa Gempa M7,7 Flores 142 Jiwa, 94 di Antaranya Meninggal di Pengungsian
Muncul gagasan pemadaman dengan semprotan manual, ada pula gagasan menurunkan penerjun payung yang membuat orang bertanya-tanya, sebenarnya apa yang akan dilakukan para penerjun tersebut di tengah kobaran api? Muncul pula gagasan menggunakan bahan berbasis tepung untuk membantu memadamkan kebakaran.
Bagi sebagian masyarakat, hal-hal seperti ini tentu mengundang tanda tanya. Bukan karena setiap gagasan atau inovasi pasti tidak efektif. Inovasi tentu boleh dan bahkan perlu dicoba. Tetapi ketika karhutla sudah berlangsung luas dan terjadi berulang kali, masyarakat tentu berharap melihat cara penanganan yang lebih meyakinkan.
Pertanyaan tentang keseriusan penanganan juga muncul ketika pemerintah memangkas anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB ) secara besar-besaran. Anggaran saat ini, yaitu Rp491 miliar tentu terasa sangat kecil sekali jika dibandingkan anggaran tahun lalu (2025) yang sebesar Rp2,01 triliun. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang seberapa serius negara mempersiapkan diri menghadapi bencana.
Apalagi sekarang masyarakat bisa melihat apa yang dilakukan negara lain saat terjadi bencana yang sama. Melalui media sosial mereka dapat melihat bagaimana kebakaran hutan ditangani, termasuk penggunaan pesawat atau helikopter untuk melakukan water bombing.
Baca Juga: Karhutla: Bencana Alam Atau Kejahatan Terstruktur
Dari situ muncul perbandingan yang hampir tidak bisa dihindari: mengapa negara lain terlihat mampu menggunakan cara yang efektif, sementara di Indonesia persoalan kebakaran ini seolah tak pernah selesai.







































