Jakarta, VIVA – Kenaikan harga plastik diperkirakan masih akan berlanjut dalam waktu dekat. Para pengamat menilai minimnya bahan pengganti membuat industri sulit menahan lonjakan biaya produksi di tengah tekanan harga energi global.
Plastik menjadi material penting sebagai bahan pengemasan di berbagai sektor, mulai konstruksi, otomotif hingga kesehatan. Ketergantungan tinggi ini membuat peralihan ke bahan alternatif seperti kertas atau kaca tidak mudah dilakukan karena membutuhkan biaya besar dan perubahan proses produksi secara menyeluruh.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Profesor Ekonom dari NYU Stern School of Business, Joseph Foudy, menyebutkan pilihan pengganti plastik dalam jangka pendek masih sangat terbatas. Kondisi ini mendorong pelaku industri untuk mencari cara lain menekan biaya, salah satunya dengan menyesuaikan desain produk.
"Tidak banyak alternatif pengganti plastik," kata Foudy dikutip dari CNN Internasional, Kamis, 9 April 2026.
Ilustrasi plastik biodegradable
Sementara itu, Profesor dari Syracuse University, Patrick Penfield, menyebut perusahaan cenderung menggunakan plastik yang lebih tipis atau bahan yang lebih murah. Produk yang sebagian besar berbahan plastik, seperti kantong sampah, diperkirakan akan mengalami kenaikan harga lebih tajam dibandingkan produk yang lebih kompleks seperti kendaraan, di mana plastik hanya menjadi salah satu komponen.
Foudy memperingatkan, dampak kenaikan harga minyak dunia berpotensi akan berlangsung lama. Jika harga minyak tetap tinggi selama tiga hingga empat bulan, konsumen berpotensi menghadapi harga lebih mahal hingga satu sampai dua tahun ke depan.
“Jika harga energi tetap tinggi beberapa bulan, konsumen bisa membayar lebih mahal dalam jangka waktu yang cukup panjang,” jelasnya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Melansir dari BBC, minyak acuan global Brent crude tercatat turun sekitar 13 persen ke level US$94,80 atau setara Rp1.611.600 per barel (kurs Rp17.000) Rabu, 8 April 2026. Sedangkan harga minyak yang diperdagangkan di Amerika Serikat anjlok lebih dari 15 persen menjadi US$95,75 atau sekitar Rp1.627.750 per barel.
Lebih lanjut, CEO Plastics Exchange, Michael Greenberg, menilai pemulihan rantai pasokan plastik imbas penutupan Selat Hormuz tidak akan terjadi dalam waktu cepat. Sekalipun jika perang Amerika Serikat (AS) dan Iran mereda dalam waktu dekat.
Halaman Selanjutnya
“Bahkan jika perang berakhir besok, butuh waktu cukup lama hingga rantai pasok (plastik) kembali normal,” tutur Greenberg.

2 weeks ago
13



























