Operasi Siber China Diduga Targetkan Uyghur, Tibet, Hong Kong, dan Taiwan

1 hour ago 1

loading...

Operasi siber China, yang mengandalkan kelompok peretas GLITTER CARP dan SEQUIN CARP, diduga targetkan para aktivis Uyghur, Tibet, Hong Kong, dan Taiwan. Foto/Milwaukee Independent

JAKARTA - Dua perkembangan yang terjadi secara hampir bersamaan pada 27 April 2026 memunculkan kembali perdebatan mengenai dugaan penggunaan operasi siber oleh China untuk memantau, mengintimidasi, dan menekan para pengkritiknya di luar negeri.

Chandu Doddi, asisten profesor Centre for Chinese Studies di Jawaharlal Nehru University, mengatakan bahwa perhatian tertuju pada laporan gabungan University of Toronto melalui Citizen Lab dan International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ), yang menjelaskan bagaimana dua kelompok siber terafiliasi China menyamar sebagai pelapor dan jurnalis untuk menargetkan aktivis Uyghur, Tibet, Hong Kong, dan Taiwan, serta wartawan dan anggota parlemen.

Baca Juga: China Jadi Sorotan dalam Studi tentang Troll Army dan Propaganda Digital

Dalam hitungan jam usai laporan itu, Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) mengonfirmasi ekstradisi dari Italia terhadap terduga peretas kontrak Xu Zewei, yang dituduh meretas penelitian Covid-19 universitas-universitas AS dan membantu memimpin kampanye global Hafnium (juga dikenal sebagai Silk Typhoon) Microsoft Exchange atas nama Kementerian Keamanan Negara China.

Menurut Doddi, kedua peristiwa tersebut—perilisan laporan gabungan dan konfirmasi Departemen Kehakiman AS—menunjukkan bahwa operasi siber yang dikaitkan dengan China kini tidak hanya ditujukan untuk memperoleh informasi strategis. “Tetapi juga untuk menekan aktivis diaspora, jurnalis, dan peneliti yang mengkritik Beijing,” ucapnya, seperti dikutip dari Irrawaddy, Rabu (15/7/2026).

Menyamar sebagai Aktivis dan Jurnalis

Laporan Citizen Lab berjudul Tall Tales: How Chinese Actors Use Impersonation and Stolen Narratives to Perpetuate Digital Transnational Repression mengidentifikasi dua kelompok siber yang diberi nama GLITTER CARP dan SEQUIN CARP.

Menurut laporan tersebut, GLITTER CARP sejak sekitar April 2025 menjalankan kampanye phishing dengan menggunakan identitas palsu, termasuk menyamar sebagai aktivis terkenal, organisasi hak asasi manusia, hingga pemberitahuan keamanan dari perusahaan teknologi besar.

Target yang disebut dalam laporan itu mencakup World Uyghur Congress, Uyghur Human Rights Project, Tibetan Computer Emergency Readiness Team, media sipil Taiwan Watchout, hingga aktivis demokrasi Hong Kong Carmen Lau.

Citizen Lab menyatakan kelompok tersebut menggunakan lebih dari 100 situs berbahaya selama sedikitnya sembilan bulan dengan pola operasi yang dinilai konsisten dengan kampanye yang dilakukan untuk kepentingan pemerintah China.

“Penggunaan identitas dan narasi yang sangat spesifik menunjukkan para pelaku memiliki pemahaman mendalam mengenai komunitas diaspora yang mereka targetkan,” tutur Doddi.

Ketika Jurnalis Menjadi Target

Jika GLITTER CARP disebut menjalankan serangan dalam skala luas, kelompok kedua, SEQUIN CARP, disebut lebih fokus pada target tertentu.

Citizen Lab menyebut kelompok tersebut menargetkan jurnalis yang terlibat dalam investigasi mengenai aktivitas China di luar negeri, terutama proyek China Targets milik ICIJ pada 2025.

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |