Selasa, 21 April 2026 - 19:20 WIB
VIVA – Sejumlah partai sayap kanan ekstrem di Eropa disebut mulai mengambil jarak dari Israel di tengah meningkatnya kritik publik, terutama dari kalangan pemilih muda, terhadap kebijakan negara tersebut.
Pakar politik internasional Shaiel Ben-Ephraim menilai perubahan ini terlihat dari pergeseran sikap beberapa partai kanan ekstrem terhadap Israel dan arah kebijakan luar negeri Uni Eropa dalam beberapa waktu terakhir.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia mencontohkan situasi di Bulgaria, di mana partai kanan ekstrem dilaporkan kehilangan dukungan suara akibat posisinya terhadap tindakan Israel di Gaza.
Menurut Ben-Ephraim, meskipun tokoh seperti Geert Wilders di Belanda tidak akan mengubah sikap secara tiba-tiba, kecenderungan global menunjukkan generasi muda semakin kritis terhadap Israel.
Ia juga menilai bahwa serangan Israel di Gaza, Lebanon, dan Iran, serta meningkatnya narasi antisemitisme di media sosial, membuat pemilih muda semakin kurang toleran terhadap sikap pro-Israel yang selama ini diadopsi partai-partai kanan ekstrem, khususnya di Eropa Timur.
"Tren jangka panjang di kalangan sayap kanan Eropa bergerak menuju posisi yang lebih kritis terhadap Israel, sejalan dengan arah global,' ujarnya dilansir Anadolu, Selasa, 21 April 2026
Ben-Ephraim menambahkan, hubungan antara Israel dan partai-partai kanan ekstrem di Eropa selama ini banyak dibangun di atas sentimen anti-Islam dan penolakan terhadap imigran Muslim, yang menurutnya membuat fondasi hubungan tersebut relatif rapuh.
Ia menyebut pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah berupaya keras membangun kedekatan dengan kelompok tersebut, namun strategi itu dinilai belum memberikan hasil luas yang diharapkan.
Menurut Ben-Ephraim, Israel kemungkinan tetap mempertahankan hubungan itu karena mengakui kegagalan strategi tersebut akan menjadi kerugian besar dalam kebijakan luar negerinya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ben-Ephraim juga mengatakan bahwa tabu untuk menjalin hubungan dengan partai-partai yang memiliki latar belakang kontroversial, termasuk yang terkait dengan masa lalu Nazi, kini mulai diabaikan dalam upaya memperkuat hubungan politik tersebut.
Ia menilai tren global, termasuk di Amerika Serikat, menunjukkan pergeseran opini publik yang makin kritis terhadap Israel, terutama di kalangan generasi di bawah usia 50 tahun. Seiring perubahan ini, ia memperkirakan partai-partai kanan ekstrem di Eropa akan semakin menjauh dari Israel jika dukungan pemilih terus menurun akibat isu tersebut.
Halaman Selanjutnya
Meski demikian, Ben-Ephraim menilai hubungan tersebut tidak akan terputus dalam waktu dekat karena masih adanya kepentingan politik, finansial, dan jaringan yang mengikat kedua pihak.

4 days ago
3



























