Pejabat Iran Ledek Trump soal Ultimatum Serangan: Biarkan Dia Ngoceh!

2 weeks ago 12

Selasa, 7 April 2026 - 09:33 WIB

VIVA – Anggota Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Saeed Jalili, menilai Presiden Amerika Serikat (AS) terlalu banyak bicara merespons ultimatumnya untuk mencapai kesepakatan semakin mendekat setelah Teheran menolak proposal gencatan senjata dengan Washington.

Namun, menurut Jalili,  para kritikus harus membiarkan Trump terus berbicara, dengan alasan bahwa pernyataannya yang meledak-ledak mengungkapkan karakter Washington yang sebenarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"‘Diam’ bukanlah respons yang tepat terhadap ocehan Trump; biarkan dia berbicara lebih banyak," tulis Jalili di X. "Tidak ada yang lebih efektif dalam mengungkap sifat asli Amerika Serikat selain ledakan amarah Trump."

Jalili merupakan  tokoh garis keras terkemuka dalam politik Iran dan sebelumnya menjabat sebagai kepala negosiator nuklir dan sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.

Trump sebelumnya memperluas ancamannya terhadap Iran hingga mencakup seluruh pembangkit listrik dan jembatan di negara itu, seiring berakhinya batas waktu Iran untuk memenuhi tuntutannya: gencatan senjata 45 hari dan ingin mengakhiri perang secara permanen.

"Seluruh negara dapat dihancurkan dalam satu malam, dan malam itu mungkin besok malam," kata Trump. Ia mengisyaratkan bahwa tenggat waktu pukul 8 malam ET pada hari Selasa (pukul 3 pagi waktu Israel pada hari Rabu) adalah final, dengan mengatakan bahwa ia telah memberi Iran cukup perpanjangan waktu.

"Kami memiliki rencana… di mana setiap jembatan di Iran akan hancur pada pukul 12 malam besok, di mana setiap pembangkit listrik akan berhenti beroperasi, terbakar, meledak dan tidak akan pernah digunakan lagi, maksud saya, penghancuran total, pada pukul 12 malam, dan itu akan terjadi dalam jangka waktu empat jam jika kita menginginkannya,"  katanya.

"Kami tidak menginginkan itu," tambahnya, seraya mencatat bahwa AS mungkin akan membantu Iran membangun kembali negaranya, dan dalam hal ini ia tidak ingin harus membangun kembali infrastruktur mahal seperti itu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia mengatakan Iran tidak menganggapnya serius sebelumnya, yang menyebabkan ia memerintahkan penghancuran jembatan utama di dekat Teheran pekan lalu hanya beberapa menit setelah pembicaraan gagal.

"Apakah saya ingin menghancurkan infrastruktur mereka? Tidak. Butuh waktu 100 tahun bagi mereka untuk membangun kembali," katanya.

Halaman Selanjutnya

"Jika kita pergi hari ini, akan butuh waktu 20 tahun bagi mereka untuk membangun kembali negara mereka… dan satu-satunya cara mereka dapat membangun kembali negara mereka adalah dengan memanfaatkan kejeniusan Amerika Serikat," klaimnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |