Jakarta, VIVA – Pemerintah memutuskan hanya akan memberikan Makan Bergizi Gratis (MBG) pada hari-hari dimana para murid masuk sekolah. Artinya, MBG tidak diberikan ketika hari libur sekolah.
Hal itu disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan alias Zulhas, usai rapat koordinasi terbatas di Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pangan di Jakarta.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Dalam rangka perbaikan, efektivitas pelaksanaan, kalau kemarin (MBG diberikan selama) 6 hari, hari libur dikasih juga. Nah, itu ternyata kurang efektif. Oleh karena itu kita putuskan MBG itu (diberikan saat) hari sekolah, (murid) datang 5 hari," kata Zulhas, Kamis, 2 April 2026.
Ilustrasi dapur MBG atau SPPG
"Kalau libur Lebaran kan (diberikan MBG) juga tidak efektif. Jadi itu libur tidak ada lagi (penyaluran MBG ke siswa), hanya diberikan di hari sekolah,” ujarnya.
Berdasarkan Pedoman Tata Kelola Penyelenggaraan Program MBG Selama Libur Sekolah yang ditetapkan melalui Keputusan Kepala BGN Nomor 52.1 Tahun 2025, Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan bahwa alur distribusi MBG tetap berlanjut meski sekolah memasuki masa libur semester.
Dimana Kelompok 3B yang terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita, tetap menerima MBG enam hari dalam sepekan tanpa terpengaruh kalender libur sekolah. Sementara, siswa dan santri memperoleh paket MBG sesuai mekanisme libur sekolah, pada sekolah atau pesantren yang bersedia hadir untuk pendistribusian.
Zulhas menambahkan, pemerintah juga menaruh perhatian lebih pada penyaluran MBG di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar), dan daerah-daerah dengan tingkat stunting anak yang tinggi. Menurutnya, distribusi MBG harus dapat menyesuaikan dengan kondisi di daerah tersebut, mulai dari segi kualitas menu makanan hingga jumlah pemberian kepada penerima manfaat.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Tetapi yang 3T dan yang tinggi sekali stunting-nya, tentu ada penanganan khusus. Selain 5 hari sekolah, kalau diperlukan bisa saja ditambah lagi 1 hari, karena (tingkat) stunting-nya tinggi, atau dia tinggal di daerah tertinggal, kemiskinan juga tinggi, dan sebagainya. Itu adalah perlakuan khusus,” ujarnya.
Zulhas mengatakan, sejauh ini progres pemberian MBG untuk balita, ibu hamil dan menyusui tidak ada perubahan apa pun karena dinilai sudah bisa berjalan dengan baik.
Halaman Selanjutnya
“Perlu disempurnakan saat ini, iya. Tapi (MBG untuk) ibu hamil dan menyusui dan balita sangat penting, karena itu akan menentukan masa depan anak-anak kita yang pada akhirnya akan menentukan masa depan Indonesia. (Sejauh ini) Tidak ada perubahan apa pun,” ujarnya. (Ant).

6 hours ago
1











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)
