Perang Timur Tengah Guncang Ambisi Jalur Kereta China - Iran

2 weeks ago 14

Selasa, 7 April 2026 - 10:50 WIB

VIVA – Perang yang berkecamuk di Timur Tengah disebut-sebut mengguncang rencana strategis Beijing membangun koridor kereta api darat yang menghubungkan China dengan Iran hingga Eropa. Jalur ini diproyeksikan menjadi alternatif penting bagi Teheran dan Beijing untuk menjaga arus perdagangan, termasuk minyak Iran, di tengah tekanan sanksi Amerika Serikat.

Koridor darat tersebut merupakan bagian dari proyek besar Belt and Road Initiative yang selama ini didorong Xi Jinping. Selain memangkas waktu tempuh logistik, jalur ini juga dirancang untuk menghindari titik rawan maritim seperti Selat Malaka, yang selama ini menjadi rute utama impor energi Tiongkok dan berada dalam pengawasan ketat militer AS.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Washington dinilai memiliki kendali strategis atas jalur laut tersebut melalui kehadiran United States Seventh Fleet serta sekutu regionalnya, sehingga jalur darat dianggap lebih aman dari potensi pencegatan.

Selain aspek logistik, koridor ini juga memiliki dimensi finansial. Transaksi perdagangan antara Beijing dan Teheran dilaporkan memanfaatkan Cross-Border Interbank Payment System untuk menghindari sistem kliring global SWIFT yang banyak dipengaruhi Barat. Dengan demikian, perdagangan tidak mudah terlacak dalam sistem perbankan internasional arus utama dan mengurangi dampak sanksi.

Pengamat menyebut koridor kereta api Tiongkok–Iran ini sebagai skenario yang mengkhawatirkan bagi AS. Jalur tersebut memungkinkan pengiriman langsung komoditas curah Iran seperti petrokimia dan bahan bangunan ke Tiongkok, sekaligus mempermudah masuknya produk elektronik dan mesin asal Tiongkok ke pasar Iran.

Rencana lebih jauh bahkan menghubungkan jalur tersebut dari Iran menuju Eropa Timur melalui Turki dan tersambung dengan jaringan rel Eropa. Ini memberi Beijing rute darat yang lebih pendek untuk menjangkau pasar Eropa dibanding jalur laut tradisional.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun, dinamika geopolitik dinilai menghambat realisasi rencana tersebut. Laporan menyebut jaringan rel Iran, termasuk fasilitas di Bandar Abbas di pesisir Teluk Persia, terdampak serangan dalam konflik terbaru yang melibatkan AS dan Israel. Meski target utama disebut fasilitas nuklir, infrastruktur transportasi turut terkena imbas.

Di sisi lain, wacana pelonggaran sebagian sanksi sekunder terhadap Iran oleh pemerintahan Donald Trump disebut memiliki syarat pengawasan ketat transaksi minyak Iran melalui mekanisme rekening penampungan yang dikendalikan AS. Skema ini berpotensi berbenturan dengan keberadaan koridor darat yang justru membuka jalur perdagangan di luar pengawasan tersebut.

Halaman Selanjutnya

Kesepakatan penting juga terjadi di Istanbul pada 25 November 2025, ketika enam negara—Iran, Tiongkok, Turki, Kazakhstan, Turkmenistan, dan Uzbekistan—menandatangani perjanjian pengembangan Koridor Selatan Tiongkok–Eropa yang melintasi Iran. Mereka berkomitmen menerapkan tarif terpadu, memangkas waktu tempuh, dan menekan biaya logistik.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |