loading...
Sebagian mitos berkembang hanya sebagai bagian dari budaya. Namun, ketika mitos diyakini memiliki kekuatan untuk mendatangkan manfaat, menolak bahaya, atau memengaruhi takdir, maka hal tersebut bertentangan dengan prinsip tauhid. Foto ilustrasi/pixabay
Mitos masih menjadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat Indonesia. Beragam kepercayaan turun-temurun, seperti anggapan tentang hari sial, benda keramat, ritual tolak bala, hingga berbagai pantangan tertentu, masih diyakini membawa manfaat atau mendatangkan musibah. Lantas, bagaimana pandangan Islam mengenai mitos? Apakah seorang Muslim boleh mempercayainya?
Dalam Islam, keyakinan harus dibangun di atas wahyu Allah SWT, bukan pada cerita, tradisi, atau kepercayaan yang tidak memiliki dasar syariat . Karena itu, mitos yang diyakini memiliki kekuatan gaib atau mampu menentukan nasib seseorang termasuk perkara yang harus diwaspadai.
Secara umum, mitos adalah cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun dan sering kali dikaitkan dengan asal-usul suatu tempat, tokoh, atau peristiwa. Sebagian mitos berkembang hanya sebagai bagian dari budaya. Namun, ketika mitos diyakini memiliki kekuatan untuk mendatangkan manfaat, menolak bahaya, atau memengaruhi takdir, maka hal tersebut bertentangan dengan prinsip tauhid .
Dalam ajaran Islam, kepercayaan semacam ini termasuk khurafat atau takhayul, yaitu keyakinan yang tidak memiliki landasan dari Al-Qur'an maupun Sunnah.
Baca juga: Hukum Percaya Mitos dan Ramalan, Ini Dalil Al-Qur'an dan Hadis yang Wajib Diketahui
Hukum Percaya Mitos Menurut Islam
Islam menegaskan bahwa satu-satunya sumber kebenaran adalah wahyu Allah SWT. Seorang Muslim diperintahkan untuk meyakini kebenaran berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah, bukan berdasarkan cerita turun-temurun yang tidak memiliki dalil.
Allah SWT berfirman:
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
"Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang ragu." (QS Al-Baqarah: 147)
Kepercayaan kepada khurafat dan mitos yang tidak berdasar merupakan salah satu bentuk penyimpangan dari cara berpikir yang dibimbing oleh wahyu. Islam mendorong umatnya menggunakan akal dan hati untuk memahami kebenaran.
Allah SWT berfirman:







































