Pertamina Dorong Inovasi di PFsains bangun pertanian terintegrasi di pesantren

2 hours ago 2

Rabu, 28 Januari 2026 - 18:39 WIB

Jakarta, VIVA – PT Pertamina (Persero), membangun pertanian terintegrasi di pesantren melalui ajang kompetisi inovasi PFsains. Hal itu dilakukan melalui melalui Pertamina Foundation.

Direktur Keuangan Pertamina Foundation Tito Rahman Hidayatullah mengatakan, dalam rangka mendukung ketahanan pangan, salah satu binaan PFsains 2025 kategori Implementation dari Fakultas Teknik Universitas Pancasila mengintegrasikan pertanian dengan pengelolaan sampah dan energi terbarukan "4 in 1" di Pondok Pesantren Daarul Hawariyyin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

"Konsep '4 in 1' ini merupakan integrasi aktivitas pertanian hidroponik, peternakan ayam, perikanan dan pengolahan sampah organik dalam satu sistem berbasis ekonomi sirkular yang berkelanjutan," jelas Tito dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 28 Januari 2026.

Inovator Dino Rimantho memaparkan sistem ini dirancang untuk menjawab tantangan utama pesantren mulai dari kebutuhan pangan 25 santri dan 10 asatidz, pengelolaan sampah organik, hingga biaya operasional pesantren.

Limbah organik pesantren dan kotoran ternak diolah melalui budi daya magot BSF yang kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ayam dan ikan lele serta air kolam ikan didaur ulang untuk mendukung sistem hidroponik.

"Ikan lele tersebut juga kami olah menjadi produk olahan, yakni abon lele, sehingga sistem ini secara keseluruhan menciptakan proses produksi pangan yang efisien, minim limbah, dan ramah lingkungan," ujarnya.

Dino menambahkan dalam implementasinya menggunakan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 1 kWp untuk penerangan lampu untuk penetasan telur ayam, penetasan telur, pompa hidroponik, mesin pencacah sampah, rotary dryer untuk maggot BSF, dan mesin press minyak magot.

"Kami melihat langsung bahwa inovasi ini tidak berhenti pada konsep, tetapi benar-benar diimplementasikan dan dirasakan manfaatnya oleh pesantren," sebut Dewan Pengawas Pertamina Foundation Narendra Widjajanto.

Tantangannya ke depan, lanjutnya, ialah pematangan model bisnis agar pesantren memperoleh pendapatan dari sistem ini. "Harapan saya, ini dapat direplikasi ke pesantren lainnya," ujar Narendra.

Tito juga menyampaikan bahwa inovasi ini mampu membangun ekosistem kemandirian di pesantren. "Melalui PFsains, kami ingin menghadirkan solusi nyata yang berkelanjutan dan berdampak langsung. Harapannya ini tidak hanya menciptakan kemandirian pangan, tetapi juga pusat pembelajaran kewirausahaan bagi para santri," ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Bergulir sejak 2020, kompetisi PFsains telah mendukung hilirisasi melalui pendanaan dan pendampingan kepada 36 produk riset inovasi teknologi dan energi dengan menggandeng 754 inovator.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |