Petani Keluhkan Harga Pupuk Rp350.000 per Kuintal, Tembus Dua Kali Lipat HET

10 hours ago 4

loading...

Ratusan petani Kampung Montor, Desa Sinarjaya, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, menyampaikan keluhan soal harga pupuk yang melambung tinggi. FOTO/dok.SindoNews

JAKARTA - Ratusan petani Kampung Montor, Desa Sinarjaya, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, menyampaikan keluhan soal harga pupuk yang melambung tinggi, krisis air, dan minimnya informasi tentang Koperasi Desa Merah Putih dalam Sarasehan Petani, Senin (10/8/2026). Kegiatan yang digelar Komunitas Rakjat Bitjara itu semula difokuskan pada program koperasi, namun berkembang menjadi persoalan yang lebih mendasar, mulai dari jalan rusak hingga rendahnya tingkat literasi.

"Harga pupuk mahal, sampai Rp350.000 per kuintal," keluh Epen, salah satu petani setempat dalam keterangannya, Kamis (13/8/2026).

Baca Juga: Prabowo Turunkan Harga Pupuk Subsidi 20% untuk Petani

Angka yang disampaikan Epen itu mencapai dua kali lipat dari harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp180.000 per kuintal untuk urea dan Rp184.000 per kuintal untuk NPK. Tarif tersebut mengacu pada Keputusan Menteri Pertanian Nomor 1117/Kpts./SR.310/M/10/2025 yang masih berlaku sepanjang 2026.

Selain persoalan pupuk, warga juga menghadapi krisis air akibat kekeringan yang membuat sungai sebagai sumber irigasi ikut mengering. Kondisi ini memukul lahan pertanian sekaligus menyulitkan pemenuhan kebutuhan air rumah tangga, sehingga menambah bean petani di tengah mahalnya biaya produksi.

Di sisi lain, program Koperasi Desa Merah Putih yang menjadi tema awal forum justru belum sampai ke warga. Rukmana, petani perempuan, mengaku tidak mengetahui apa itu Kopdes Merah Putih. "Kopdes itu apa? Nggak tahu saya," ujarnya dengan polos.

Padahal Kopdes Merah Putih yang dibentuk berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 kini diposisikan sebagai penyalur pengganti pupuk bersubsidi. Hal itu terjadi setelah Kementerian Pertanian mencabut izin ratusan pengecer dan distributor yang menjual pupuk di atas HET, namun sosialisasi ke tingkat kampung dinilai belum optimal.

Kepala Desa Sinarjaya dan Ketua Kopdes Merah Putih setempat tidak hadir dalam forum meskipun telah diundang, dan hingga rilis ini diterbitkan keduanya belum memberikan keterangan. Juru bicara Komunitas Rakjat Bitjara, Akhrom Saleh, menilai temuan di lapangan menunjukkan ada jarak antara rancangan program dan kenyataan di kampung.

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |