Jakarta, VIVA – Industri fast fashion global tengah mengalami perubahan besar di tengah tekanan biaya operasional dan perubahan perilaku konsumen. Model bisnis yang sebelumnya mengandalkan ekspansi toko fisik kini mulai bergeser ke arah digital, seiring meningkatnya dominasi e-commerce.
Salah satu pemain besar dalam industri ini, H&M Group, mengambil langkah agresif dengan menutup ratusan gerai dan merombak strategi bisnisnya. Perusahaan yang telah berdiri sejak 1947 ini kini mempercepat transformasi untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Tekanan terbesar datang dari platform digital seperti Shein dan Temu yang menawarkan produk dengan harga sangat rendah. Melalui rantai pasok yang efisien dan model bisnis berbasis online, kedua platform ini berhasil merebut pangsa pasar, terutama dari konsumen yang sensitif terhadap harga.
Sebagai respons, H&M melanjutkan strategi penutupan toko pada 2026 setelah sebelumnya menutup sekitar 200 lokasi secara global pada 2025. Langkah ini merupakan bagian dari upaya optimalisasi portofolio toko sekaligus pengalihan fokus ke kanal digital.
Sepanjang kuartal pertama tahun fiskal 2026, perusahaan mencatat penurunan penjualan bersih sebesar 1 persen secara tahunan dalam mata uang lokal. Penurunan ini sebagian dipengaruhi oleh berkurangnya jumlah toko hingga 4 persen.
“Optimalisasi portofolio toko memberikan dampak yang agak negatif terhadap penjualan pada kuartal pertama 2026 karena penutupan dan renovasi toko,” demikian laporan keuangan perusahaan, sebagaimana dikutip dari The Street, Kamis, 9 April 2026.
Namun, perusahaan juga menekankan bahwa strategi ini bersifat jangka panjang. “Untuk keseluruhan tahun 2026, dampak penjualan dari optimalisasi toko diperkirakan akan sedikit positif.”
Secara total, H&M telah mengurangi jumlah gerainya sebanyak 163 lokasi, sehingga kini memiliki sekitar 4.050 toko di seluruh dunia. Meski berdampak pada penjualan jangka pendek, langkah ini diyakini akan meningkatkan efisiensi operasional dan profitabilitas di masa depan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Transformasi ini juga didorong oleh pesatnya pertumbuhan e-commerce. Saat ini, penjualan online menyumbang lebih dari 30 persen dari total pendapatan H&M, menandakan pergeseran signifikan dalam perilaku belanja konsumen.
Perusahaan menegaskan bahwa pengalaman pelanggan kini menjadi fokus utama dalam strategi omnichannel mereka. “Pelanggan ingin mendapatkan inspirasi dan memiliki akses terhadap produk sehingga mereka bisa berbelanja di mana, kapan, dan bagaimana mereka memilih, baik di toko, situs resmi merek, marketplace digital, maupun media sosial.”
Halaman Selanjutnya
Ke depan, H&M berencana membuka sekitar 80 toko baru, namun juga akan menutup sekitar 160 lokasi sepanjang 2026. Pembukaan toko akan difokuskan pada pasar yang masih berkembang, sementara penutupan dilakukan di wilayah yang sudah jenuh atau kurang menguntungkan.

2 weeks ago
10



























