Regulasi Saja Tak Cukup: Peran Orang Tua dalam Menyempurnakan PP TUNAS

3 weeks ago 11

Rabu, 1 April 2026 - 17:20 WIB

Jakarta, VIVA – Kesehatan mental anak Indonesia sedang menghadapi situasi yang tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan pinggiran. Data terbaru Kementerian Kesehatan per Maret 2026 menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan: semakin banyak anak yang berjuang dengan tekanan psikologis, sering kali tanpa disadari oleh orang-orang di sekitarnya.

Bayangkan sebuah kelas yang berisi 30 siswa. Secara statistik, sekitar tiga di antaranya sedang mengalami kecemasan atau depresi. Gambaran ini bukan sekadar ilustrasi, melainkan refleksi dari hasil skrining Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang memeriksa sekitar 7 juta anak usia 7–17 tahun di seluruh Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hasilnya menunjukkan bahwa 363.326 anak (4,8 persen) mengalami gejala depresi dan 338.316 anak (4,4 persen)menunjukkan gejala kecemasan. Angka ini bahkan lima kali lebih tinggi dibandingkan kelompok usia dewasa dan lansia, menandakan bahwa tekanan psikologis justru paling besar dirasakan oleh generasi yang paling muda.

Temuan ini menjadi alarm bahwa kesehatan mental anak Indonesia sedang berada dalam kondisi yang memerlukan perhatian serius.

Luka Psikologis yang Sering Tidak Terlihat

Berbeda dengan penyakit fisik, gangguan kesehatan mental pada anak sering kali tidak terlihat secara kasat mata. Banyak orang tua baru menyadari masalah ketika kondisinya sudah cukup serius.
Dalam banyak kasus, tanda-tandanya muncul secara halus. Anak yang sebelumnya aktif tiba-tiba kehilangan minat pada aktivitas yang dulu ia sukai. 

Ia mulai menarik diri dari pergaulan, mudah tersinggung, atau menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar sebagai bentuk pelarian dari tekanan yang tidak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.

Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Healing119.id menunjukkan bahwa pemicu utama krisis kesehatan mental anak tidak selalu berasal dari luar rumah. Justru lingkungan terdekat sering menjadi faktor terbesar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Konflik keluarga dan pola pengasuhan yang tidak sehat menyumbang sekitar 24–46 persen dari kasus tekanan psikologis pada anak. Faktor berikutnya adalah perundungan atau bullying sebesar 14–18 persen, disusul masalah psikologis individual sekitar 8–26 persen, serta tekanan akademik sebesar 7–16 persen.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa kesehatan mental anak tidak dapat dipisahkan dari dinamika hubungan keluarga, lingkungan sekolah, dan cara anak menghadapi tuntutan sosial di sekitarnya.

Halaman Selanjutnya

Dunia Digital sebagai Penguat Tekanan

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |