Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah pada Kamis pagi di pasar spot internasional bergerak melemah 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp18.071 per dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.068 per dolar AS.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, dikutip, Kamis pagi, 16 Juli 0226. kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 18.064 pada Posisi rupiah itu menguat dari kurs sebelumnya di level 18.099 pada perdagangan Selasa, 14 Juli 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sebelumnya, Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar merespon positif setelah S&P Global Ratings memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5 persen setiap tahunnya, sampai dengan tiga tahun ke depan di tengah kenaikan harga BBM.
"Lembaga pemeringkat ini mempertahankan peringkat kredit Indonesia dalam kategori layak investasi BBB dengan prospek tetap Stabil," kata Ibrahim dalam riset hariannya,
Diamenyampaikan bahwa peringkat kredit Indonesia bertahan di BBB berkat prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat. Hal ini terefleksikan dari pengaturan kebijakan ekonomi makro yang bijak, serta beban utang eksternal maupun pemerintah yang relatif lebih ringan dibandingkan dengan negara-negara berperingkat sesama BBB.
Pertumbuhan ekonomi ini didorong oleh belanja fiskal dan kebijakan hilirisasi, yang tidak lepas dari sentimen terhadap eksekusinya. S&P menilai, kebijakan pemerintah terkait dengan hilirisasi dan penguatan kontrol terhadap sumber daya mineral berpotensi meningkatkan pertumbuhan penerimaan dan penghasilan ekspor.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pertumbuhan ekonomi Indonesia, meski tembus 5,6 persen pada kuartal I-2026, dinilai tetap dibarengi oleh gejolak pasar keuangan selama semester I-2026. Pasar saham paling mengalami tekanan akibat kehilangan lebih dari 30 persen kapitalisasi pasar.
Belum lagi, nilai tukar rupiah juga turun sektar 7 persen terhadap dolar AS pada periode yang sama. Untuk tahun ini, S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen, sejalan dengan peluang moderasi pertumbuhan ekonomi di kuartal-kuartal berikutnya. Hal ini disebabkan oleh berlanjutnya ketidakpastian eksternal dan tingginya tingkat suku bunga dalam negeri.
Ekonom Ungkap Dampak dari Keputusan S&P Global Pertahankan Peringkat Utang RI
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai bahwa keputusan lembaga pemeringat S&P Global Ratings mempertahankan peringkat RI.
VIVA.co.id
15 Juli 2026

1 hour ago
1











