Rupiah Menguat di Tengah Proyeksi Ekonomi RI Kuartal I Tumbuh 5,2 Persen

2 hours ago 1

Rabu, 1 April 2026 - 09:56 WIB

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.999 per Selasa, 31 Maret 2026. Posisi rupiah itu melemah 6 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.993 pada perdagangan Senin, 30 Maret 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara perdagangan di pasar spot pada Rabu, 1 April 2026 hingga pukul 09.08 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.975 per dolar AS. Posisi itu menguat 66 poin atau 0,39 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.041 per dolar AS.

Tumpukan uang rupiah dengan berbagai nominal

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, para ekonom memproyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 akan berada di kisaran 5,1-5,2 persen. Pendorong utamanya yakni konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.

Namun terdapat hambatan dari perlambatan pembentukan modal tetap bruto (PMTB)/investasi dan net-ekspor, disebabkan memburuknya kondisi global pada Maret 2026 akibat perang di Timur Tengah yang menekan harga energi, pasar keuangan, dan nilai tukar.

Faktor pemicu pertumbuhan kuartal pertama terutama datang dari dorongan musiman yang sangat kuat seperti momentum Ramadhan, Idul Fitri, tunjangan hari raya (THR), bantuan sosial, diskon transportasi, dan pergerakan mudik. Dimana hal-hal tersebut telah mendorong belanja rumah tangga, jasa transportasi, perdagangan, makanan minuman, hingga kegiatan ekonomi di daerah. 

Di sisi lain, keyakinan konsumen pada Februari 2026 masih tinggi di level 125,2, penjualan eceran menguat, dan PMI manufaktur di 53,8 menunjukkan dunia usaha masih bergerak. Tak hanya itu, belanja negara juga tumbuh sangat cepat pada awal tahun, sehingga dorongan dari sisi permintaan dan sisi fiskal datang bersamaan.

Dalam kaitan itu, pola pertumbuhan yang masih didominasi konsumsi itu memang menggembirakan untuk jangka pendek, tetapi belum cukup sehat untuk jangka panjang. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Konsumsi memang menjadi penyangga utama ekonomi Indonesia dan menyumbang sekitar 53-54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sehingga saat dunia global melemah, permintaan dalam negeri bisa menahan perlambatan.

Di lain sisi, sinyal baik tercermin dari survei Bank Indonesia (BI), yang menunjukkan porsi pendapatan rumah tangga yang dipakai untuk konsumsi turun menjadi 71,6 persen. Sementara porsi tabungan naik menjadi 17,7 persen. Artinya, rumah tangga masih belanja, tetapi mulai sedikit lebih berhati-hati.

Halaman Selanjutnya

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.040-Rp 17.070," ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |