Selamat Datang di Realita Baru Kelas Menengah: Menikah, Punya Anak, dan Rumah Semakin Tak Terjangkau

2 hours ago 1

Sabtu, 24 Januari 2026 - 16:35 WIB

Jakarta, VIVA – Tekanan ekonomi yang dirasakan kelas menengah kini bukan lagi sekadar keluhan personal, melainkan realitas yang tercermin dalam data. Bagi banyak orang, terutama generasi Milenial dan Gen Z, rencana menikah, punya anak, membeli rumah, atau sekadar membeli mobil baru terasa semakin jauh dari jangkauan. 

Ya, standar hidup yang dulu identik dengan stabilitas, kini berubah menjadi sumber kecemasan finansial.

Sebuah laporan menggambarkan bagaimana lonjakan biaya hidup, stagnasi upah, dan perbedaan geografis membuat definisi “kelas menengah” kian kabur. Apa yang dulu dianggap normal bagi keluarga berpenghasilan menengah, kini justru terasa seperti kemewahan. 

Pertanyaannya bukan lagi soal penghasilan semata, tetapi apakah kehidupan kelas menengah masih bisa diwujudkan di tengah tekanan ekonomi saat ini? 

Menilik dari sejarahnya, pada era pasca Perang Dunia II, kelas menengah identik dengan pekerjaan stabil, rumah yang bisa dibeli dengan satu sumber penghasilan, mobil pribadi, dan kemampuan membesarkan anak tanpa tekanan finansial berlebihan. 

Pew Research Center juga mendefinisikan kelas menengah sebagai rumah tangga dengan pendapatan sekitar dua pertiga hingga dua kali lipat median nasional, dengan angka pastinya menyesuaikan lokasi tempat tinggal.

Namun, kini kondisinya berbeda. "Di Amerika, yang masuk kategori kelas menengah terus menyusut. Pada 1971, sekitar 61 persen warganya tergolong kelas menengah, tetapi angka tersebut turun menjadi 51 persen pada 2023,” demikian dikutip dari Investopedia, Sabtu, 24 Januari 2026.

Lonjakan biaya menjadi faktor terbesar yang membuat tonggak kehidupan terasa makin sulit dicapai. Harga median rumah keluarga tunggal di Amerika Serikat melonjak tajam dari US$164.000 atau setara Rp2,75 miliar pada Januari 2012 menjadi US$357.275 atau sekitar Rp6 miliar pada Januari 2026. Kenaikan ini terjadi jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan.

Biaya membesarkan anak juga meningkat drastis. Jika pada tahun 2000 total biayanya sekitar US$165.630 atau Rp2,78 miliar, maka pada 2025 angkanya melonjak menjadi US$414.000 atau setara Rp6,96 miliar. 

Sementara itu, pendapatan tahunan rata-rata hanya naik sekitar 2,1 kali, dari US$29.744 atau Rp500 juta menjadi US$63.128 atau sekitar Rp1,06 miliar per tahun. Kesenjangan inilah yang membuat banyak keluarga merasa “jalan di tempat” meski bekerja lebih keras.

Halaman Selanjutnya

Meski jumlahnya menurun, kelas menengah belum sepenuhnya menghilang. Banyak rumah tangga secara teknis masih memenuhi kriteria pendapatan, tetapi merasa terhimpit oleh utang, biaya perumahan, pendidikan, dan layanan kesehatan. 

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |