Siap-siap, Harga Mi Goreng Bisa Naik karena BBM dan Plastik Makin Mahal

4 days ago 3

Selasa, 21 April 2026 - 16:20 WIB

Jakarta, VIVA – Harga makanan favorit seperti mi goreng berpotensi ikut naik, seiring lonjakan biaya produksi akibat krisis energi global yang belum mereda. Konflik antara Iran vs Israel dan Amerika Serikat, yang masih berlangsung membuat harga bahan bakar, logistik, hingga kemasan makanan terus menekan pelaku usaha.

Di Malaysia, produsen mi kuning merasakan dampak paling besar dari kenaikan harga plastik kemasan berbahan dasar minyak mentah serta melonjaknya harga solar untuk distribusi dan produksi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di Selat Hormuz memperpanjang krisis energi global. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia. Ketidakstabilan di kawasan itu membuat biaya pengiriman, asuransi kapal, dan pasokan bahan baku melonjak tajam.

Presiden Malaysian Bakery, Biscuit, Confectionery, Mee and Kuey Teow Merchants Association, Chaang Tuck Cheong, mengatakan biaya kemasan plastik untuk mi telah naik hampir 30 persen sejak konflik berlangsung lebih dari sebulan lalu.

Bahan utama kemasan tersebut adalah polyethylene terephthalate (PET), yaitu material yang diproduksi dari hasil olahan minyak mentah. Sementara sekitar 38 persen pasokan minyak mentah Malaysia diimpor melalui Selat Hormuz.

Selain mahal, pasokan kemasan juga datang jauh lebih lambat karena lonjakan permintaan. “Dulu, kami bisa mendapatkan kemasan dalam waktu tiga minggu setelah melakukan pembelian, tetapi sekarang beberapa produsen mi harus menunggu setidaknya enam minggu,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari Malay Mail, Selasa, 21 April 2026.

“Beberapa pemasok juga memperpendek masa pembayaran kami, dari sebelumnya dua bulan menjadi hanya satu bulan, sehingga menimbulkan tekanan arus kas yang serius,” jelasnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kondisi ini membuat produsen harus bekerja ekstra menjaga kelangsungan produksi sambil menahan tekanan biaya yang terus meningkat. Chaang menjelaskan bahwa biaya solar menyumbang hampir sepertiga dari total biaya produksi mi. Karena itu, kenaikan harga diesel sangat memukul industri ini.

Harga solar di Semenanjung Malaysia melonjak dari RM3,12 per liter pada 11 Maret menjadi rekor RM6,72 per liter pada 9 April. Meski sempat turun 75 sen menjadi RM5,97 per liter pekan lalu, angka tersebut masih jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya.

Halaman Selanjutnya

“Beberapa usaha tradisional berskala kecil yang masih menggunakan kayu bakar untuk memproduksi mi mungkin tidak akan menaikkan harga demi menjaga daya saing mereka,” kata dia. “Tetapi, perusahaan besar yang bergantung pada solar untuk memproduksi mi tidak punya pilihan.”

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |