Jakarta, VIVA – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali menghantam industri teknologi. Kali ini, perusahaan induk Snapchat, Snap Inc, mengumumkan pemangkasan besar-besaran terhadap tenaga kerjanya.
Sekitar 1.000 karyawan atau setara 16 persen dari total staf harus terdampak keputusan tersebut. Langkah ini menambah daftar panjang perusahaan teknologi global yang melakukan efisiensi dengan mengaitkan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Selain faktor teknologi, tekanan dari investor juga menjadi salah satu pemicu utama restrukturisasi ini. Dalam memo internal kepada karyawan, CEO Snap, Evan Spiegel, secara terbuka menyebut bahwa kemajuan AI menjadi alasan penting di balik keputusan tersebut.
“Meskipun perubahan ini diperlukan untuk mewujudkan potensi jangka panjang Snap, kami percaya bahwa kemajuan pesat dalam kecerdasan buatan memungkinkan tim kami untuk mengurangi pekerjaan berulang, meningkatkan kecepatan kerja, serta memberikan dukungan yang lebih baik bagi komunitas, mitra, dan pengiklan kami,” tulis Spiegel, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Jumat, 17 April 2026.
Keputusan PHK ini tidak berdiri sendiri. Sebelumnya, investor aktivis Irenic Capital Management telah mendesak Snap untuk memangkas biaya operasional dan jumlah karyawan.
Dalam suratnya kepada Spiegel, manajemen investasi tersebut juga mengkritik strategi perusahaan yang dinilai belum optimal. Langkah efisiensi ini diharapkan dapat mendorong perusahaan menuju profitabilitas. Terlebih, harga saham Snap sempat tertekan cukup dalam sepanjang tahun berjalan.
Namun menariknya, setelah kabar PHK diumumkan, saham Snap justru naik sekitar 6 persen pada awal perdagangan. Kenaikan ini terjadi setelah saham perusahaan anjlok lebih dari 30 persen sejak awal tahun.
Fenomena mengaitkan PHK dengan AI kini menjadi tren di industri teknologi. Sejumlah raksasa teknologi seperti Microsoft, Amazon, hingga Oracle juga melakukan pemangkasan karyawan dalam skala besar sambil mengadopsi teknologi AI.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Bahkan perusahaan milik Jack Dorsey, yakni Block, juga ikut dalam gelombang tersebut. Mereka beralasan bahwa AI memungkinkan perusahaan bekerja lebih efisien dengan jumlah tenaga kerja yang lebih sedikit.
Meski demikian, tidak semua pihak sepakat dengan narasi tersebut. Sejumlah pakar dan pekerja menilai bahwa manfaat AI dalam meningkatkan produktivitas belum sepenuhnya jelas.
Halaman Selanjutnya
Beberapa bahkan menuding adanya praktik “AI-washing”, yakni penggunaan istilah AI sebagai alasan untuk menutupi keputusan bisnis lain seperti kelebihan jumlah karyawan.

1 week ago
5



























