Standard Chartered Ramal Harga Emas 2026, Gencatan AS-Iran Jadi Penentu

4 days ago 4

Selasa, 21 April 2026 - 15:00 WIB

Jakarta, VIVA – Pergerakan harga emas dunia masih berada dalam fase penuh ketidakpastian. Di tengah gejolak geopolitik dan tekanan inflasi, arah harga logam mulia sangat ditentukan oleh perkembangan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Berdasarkan pantauan VIVA di Gold Price pada Selasa, 21 April 2026 pukul 14.22, harga emas global anjlok 0,53 persen sehingga diperdagangkan senilai US$4.784,06 atau sekitar Rp 81,98 juta (estimasi kurs Rp 17.1740 per dolar AS) per ons. Dari grafik, terlihat logam mulai berwarna kuning sempat menyentuh level US$4.820 pada tanggal 14 April 2026

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hal ini sejalan dengan laporan terbaru Standard Chartered yang menunjukkan harga emas saat ini mulai membentuk level penopang di kisaran US$4.800 per ons. Meski demikian, dalam jangka pendek emas masih berpotensi menghadapi tekanan akibat ketidakpastian konflik di Timur Tengah dan dinamika inflasi global.

Head of Commodities Research Standard Chartered, Suki Cooper, menilai tren harga emas ke depan sangat bergantung pada stabilitas geopolitik. Gencatan senjata AS-Iran menjadi faktor utama yang menggerakan harga logam mulia.

Ilustrasi Investasi Emas

Photo :

  • Ilustrasi Investasi Emas

“Dengan gencatan senjata yang masih rapuh dan pergeseran fokus ke imbal hasil riil, emas belum sepenuhnya keluar dari tekanan. Kebutuhan likuiditas juga masih bisa menekan harga,” ujar Cooper dikutip dari Kitco News pada Selasa, 21 April 2026. 

Cooper menambahkan, faktor struktural yang mendukung kenaikan harga emas masih kuat. Ia memperkirakan harga emas berpotensi kembali menguji level tertinggi dalam beberapa bulan mendatang.

“Namun, pendorong struktural tetap utuh, dan kami memperkirakan emas akan kembali melanjutkan tren kenaikannya untuk menguji level tertinggi dalam beberapa bulan ke depan,” lanjutnya.

Selain faktor geopolitik, sentimen inflasi juga menjadi variabel penting. Cooper menjelaskan, kini emas menunjukkan korelasi negatif sebesar 24 persen terhadap imbal hasil riil tenor lima tahun, berbeda dengan kondisi sebelum konflik yang cenderung netral.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Pasar saat ini terpecah antara risiko inflasi dan potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi. Emas biasanya unggul saat inflasi meningkat tajam atau ketika ekonomi AS memasuki fase resesi,” jelas Cooper.

Lebih lanjut, ia menilai pasar emas saat ini belum sepenuhnya merespons risiko-risiko tersebut. Dengan demikian, kata Cooper masih terdapat potensi kenaikan harga dalam beberapa bulan ke depan.

Halaman Selanjutnya

Di sisi lain, Cooper juga melihat sejumlah sinyal positif mulai muncul. Posisi spekulatif di pasar emas mulai menurun, sehingga mengurangi tekanan berlebih. Selain itu, permintaan investor juga menunjukkan pemulihan, tercermin dari arus masuk dana ke produk exchange-traded funds (ETF) berbasis emas.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |