Kamis, 9 April 2026 - 07:00 WIB
VIVA –Status Selat Hormuz masih belum jelas setelah sejumlah media Iran mengeluarkan laporan yang saling bertentangan soal apakah kapal tanker minyak masih diizinkan melintas pada hari Rabu. Menurut laporan Press TV milik pemerintah Iran, selat tersebut telah ditutup sepenuhnya, dan semua kapal tanker yang mencoba melintas dipaksa berbalik arah.
Namun, tak lama sebelum pernyataan itu muncul, jaringan berita milik pemerintah lainnya, Student News Network (SSN), justru melaporkan bahwa jalur aman untuk melintasi Selat Hormuz telah ditetapkan. Kapal-kapal disebut harus menggunakan jalur tersebut dengan koordinasi bersama Garda Revolusi Iran (IRGC).
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Melansir laman The Jerusalem Post, Kamis 9 April 2026, dalam laporan itu dijelaskan, jalur masuk yang dianggap aman adalah dari Laut Oman menuju bagian utara Pulau Larak. Sementara jalur keluar dari kawasan Teluk diarahkan melewati selatan Pulau Larak menuju Laut Oman.
Di sisi lain, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada hari Rabu membantah laporan bahwa Iran telah menutup Selat Hormuz hanya beberapa jam setelah dimulainya gencatan senjata yang masih rapuh dengan Amerika Serikat. Namun, ia menegaskan bahwa upaya apa pun dari Iran untuk menghentikan lalu lintas laut akan dianggap sepenuhnya tidak dapat diterima.
Sebelumnya pada hari yang sama, kantor berita Fars yang berafiliasi dengan IRGC melaporkan bahwa Iran kembali menutup Selat Hormuz dan memblokir kapal tanker minyak sebagai bentuk balasan atas serangan Israel terhadap kelompok Hezbollah.
Beberapa sumber pelayaran juga menyebutkan bahwa kapal tanker yang mencoba melintas menerima pesan ancaman dari Angkatan Laut Iran.
“Setiap kapal yang mencoba memasuki perairan akan menjadi target dan dihancurkan,” demikian isi pesan yang diterima oleh sejumlah kapal.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sementara itu mengutip laman AP News ,Komandan kedirgantaraan Garda Revolusi Iran, Jenderal Seyed Majid Mousavi, menegaskan bahwa serangan ke Lebanon dianggap sama dengan menyerang Iran. Ia juga memperingatkan bahwa pihaknya sedang menyiapkan balasan besar, meski belum menjelaskan detailnya.
Di sisi lain, pihak Israel melalui Kepala Staf Militer Letjen Eyal Zamir menyatakan negaranya akan terus memanfaatkan setiap peluang untuk menghantam kelompok Hizbullah. Militer Israel bahkan mengklaim telah menyerang lebih dari 100 target di Lebanon hanya dalam 10 menit pada Rabu disebut sebagai serangan terbesar sejak 1 Maret.
Bursa Asia Bergejolak Setelah Iran Klaim AS Langgar Kesepakatan Ketegangan Gencatan Senjata
Bursa saham Asia-Pasifik dibuka beragam pada perdagangan Kamis, 9 April 2026. Pelaku pasar mencermati perkembangan terbaru terkait kesepakatan gencatan senjata.
VIVA.co.id
9 April 2026

2 weeks ago
8



























