VIVA – Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin mengungkap pengembangan teknologi pengolahan mineral terus diperkuat melalui proyek hilirisasi terintegrasi dari hulu ke hilir. Menurutnya, hal ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat melalui ketahanan energi, industri, dan ekonomi.
“Kami berkomitmen memastikan agenda hilirisasi nasional tidak hanya berjalan, tetapi juga memberikan manfaat yang nyata dan terukur bagi perekonomian nasional, sekaligus mendukung ketahanan energi, transisi energi terbarukan, serta pembangunan industri masa depan Indonesia,” kata Maroef dalam keterangan tertulis, Rabu 15 April 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Teknologi yang diterapkan mencakup proses pengolahan dan pemurnian mineral di dalam negeri, mulai dari pembangunan smelter hingga pengembangan industri turunan berbasis mineral. Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperkuat kemandirian industri nasional.
Salah satu implementasi, kata dia, terlihat pada pengembangan rantai industri bauksit menjadi aluminium. Proses ini dilakukan secara terintegrasi, mulai dari penambangan bauksit oleh ANTAM, pengolahan menjadi alumina oleh PT Borneo Alumina Indonesia, hingga produksi aluminium melalui smelter yang didukung pasokan energi dari pembangkit listrik. Integrasi ini memungkinkan pengolahan dilakukan sepenuhnya di dalam negeri serta membantu mengurangi ketergantungan impor aluminium.
Pada komoditas emas, pembangunan fasilitas manufaktur logam mulia di Gresik juga menjadi bagian dari penguatan teknologi hilirisasi. Kolaborasi dengan Freeport Indonesia sebagai pemasok bahan baku diharapkan meningkatkan ketersediaan emas untuk kebutuhan investasi masyarakat sekaligus memperkuat daya saing produk dalam negeri.
Manfaat teknologi juga terlihat pada sektor energi melalui pengembangan proyek konversi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME). Proyek ini ditujukan sebagai alternatif pengganti LPG impor, sehingga berpotensi mendukung ketersediaan energi bagi rumah tangga dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri.
Di sektor mineral kritis, pengembangan teknologi pengolahan nikel dilakukan melalui pembangunan smelter berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) di sejumlah wilayah seperti Pomalaa, Bahodopi, dan Sorowako. Teknologi ini digunakan untuk menghasilkan bahan baku seperti Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan feronikel yang menjadi bagian penting dalam industri baterai dan logam.
Halaman Selanjutnya
Penguatan hilirisasi juga dilakukan pada komoditas timah melalui pengolahan lanjutan menjadi produk turunan seperti timah bubuk. Langkah ini bertujuan meningkatkan nilai tambah dan memperluas pemanfaatan produk timah di pasar industri.

1 week ago
6



























