Jakarta, VIVA – Jumlah pengidap penyakit tidak menular (PTM) masih cukup tinggi di tingkat global. Penyakit seperti diabetes, kardiovaskular, kanker, hingga gangguan pernapasan kini menjadi penyumbang utama beban kesehatan nasional, menggeser dominasi penyakit menular.
Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan setidaknya 43 juta orang tewas akibat PTM pada tahun 2021. Jumlah ini setara dengan 75 persen dari kematian yang tidak terkait pandemi secara global.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Secara lebih rinci, sebanyak 18 juta orang meninggal karena PTM sebelum usia 70 tahun. Sekitar 82 persen dari kematian dini ini terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kualitas hidup masyarakat, tetapi juga memberi tekanan besar terhadap sistem layanan kesehatan. Kebutuhan penanganan jangka panjang, terapi inovatif, serta biaya pengobatan yang tinggi membuat sistem kesehatan dituntut beradaptasi lebih cepat dan tepat.
Direktur Utama PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL), Christophe Piganiol, menyoroti tantangan lain yang dihadapi Indonesia dalam mewujudkan sistem kesehatan yang resilien. Menurut Christophe, masalah terbesar adalah ketimpangan akses, fasilitas medis serta obat-obatan di kota besar dengan daerah terpencil padahal setiap orang memiliki hak yang sama atas kesehatan.
![]()
"Kami percaya bahwa setiap warga Indonesia berhak mendapatkan akses yang setara terhadap layanan kesehatan berkualitas," tutur Christophe saat ditemui di Jakarta, Rabu, 1 April 2026.
Teknologi Jadi Kunci Transformasi
Untuk menjawab tantangan-tantangan itu, kata Christophe, pentingnya memaksimalkan pemanfaatan teknologi menjadi salah satu solusi utama. Digitalisasi dalam rantai pasok kesehatan memungkinkan distribusi produk medis berjalan lebih efisien, akurat, dan terjaga kualitasnya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Transformasi sistem kesehatan menjadi semakin mendesak, termasuk Indonesia yang terus mendorong sektor ini. Perubahan ditujukan dalam rangka memastikan layanan yang merata, terjangkau, dan berkualitas di seluruh wilayah Indonesia.
Sistem pemantauan suhu secara real-time, analitik data untuk pengelolaan stok, hingga distribusi berbasis teknologi kini mulai diimplementasikan guna memastikan produk kesehatan tetap aman hingga ke tangan pasien. Selain itu, penerapan standar global seperti Good Distribution Practice (GDP) dan sertifikasi mutu juga memperkuat kualitas layanan sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat.
Halaman Selanjutnya
Seiring meningkatnya kasus PTM, kebutuhan terhadap terapi inovatif juga semakin tinggi. Penanganan penyakit kronis membutuhkan pendekatan yang lebih modern dan berbasis teknologi medis terkini.

3 weeks ago
7



























