Trump Akui AS Sempat Persenjatai Demonstran Iran Saat Aksi Januari Lalu

2 weeks ago 6

Selasa, 7 April 2026 - 11:00 WIB

VIVA –Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa AS sempat diam-diam mencoba memasok senjata kepada para demonstran di Iran. Pasokan senjata ini dikirim melalui perantara kelompok Kurdi, beberapa minggu sebelum perang saat ini dimulai bahkan ketika Washington masih melakukan pembicaraan dengan Teheran.

“Kami mengirim senjata ke para demonstran, banyak sekali,” kata Trump seperti dikutip Fox News pada Minggu malam waktu setempat dan dikutip ulang dari laman Al Jazeerah, Selasa 7 April 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia juga menyebut bahwa senjata-senjata tersebut kemungkinan justru disimpan oleh pihak Kurdi.

Pernyataan ini muncul di tengah perang antara AS dan Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari, beberapa minggu setelah gelombang demonstrasi pecah akibat tingginya biaya hidup di Iran. Aksi protes tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa dekade, yang dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi setelah bertahun-tahun terkena sanksi AS.

Sejumlah laporan media, termasuk dari Channel 12 Israel, pada Januari lalu juga menyebut bahwa para demonstran diduga mendapat pasokan senjata dari pihak asing.

Trump juga mengklaim bahwa selama aksi protes, Iran telah membantai sekitar 45.000 warga sipil. Namun, klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.

Pihak berwenang Iran menyatakan sebanyak 3.117 orang tewas selama beberapa pekan demonstrasi, sekaligus membantah tuduhan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kelompok hak asasi manusia yang menyebut aparat negara bertanggung jawab atas kematian tersebut.

Pejabat Iran juga mengatakan ratusan polisi tewas dan fasilitas pemerintah dirusak oleh para demonstran, yang mereka sebut sebagai perusuh, penyabot, dan teroris. Sejak itu, Iran telah mengeksekusi sejumlah orang dengan tuduhan terlibat dalam aksi protes atas perintah pihak asing.

Sementara itu, Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS menyatakan pada akhir Januari bahwa mereka telah memverifikasi 6.872 kematian dan masih menyelidiki lebih dari 11.000 kasus lainnya. Seorang pelapor khusus PBB bahkan memperkirakan jumlah korban bisa melebihi 20.000 jiwa.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Al Jazeera menyebut angka-angka tersebut juga belum dapat dipastikan kebenarannya secara independen.

Bantahan dari kelompok Kurdi

Halaman Selanjutnya

Sejumlah kelompok oposisi Kurdi di Iran membantah klaim Trump bahwa mereka menerima senjata dari AS. Hal ini dilaporkan oleh Rudaw, media yang berbasis di wilayah otonomi Kurdi di Irak.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |