Kamis, 2 April 2026 - 05:00 WIB
VIVA –Seorang pejabat senior Iran membantah klaim Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut pemimpin baru Iran telah meminta gencatan senjata, di tengah perang yang masih berlangsung antara AS, Israel, dan Iran.
Jurnalis Al Jazeera, Ali Hashem, melaporkan dari Teheran pada Rabu bahwa pejabat tersebut menolak pernyataan Trump di media sosial yang mengklaim Iran baru saja mengajukan permintaan gencatan senjata kepada Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Pihak Iran membantah bahwa mereka pernah meminta gencatan senjata,” ujar Hashem dikutip dari laman Al Jazeerah, Kamis 2 April 2026.
Sebelumnya dalam unggahan di platform media sosialnya Truth, Trump mengatakan bahwa AS akan mempertimbangkan permintaan Iran untuk gencatan senjata jika Selat Hormuz sudah terbuka, bebas, dan aman.
“Sampai saat itu, kami akan menghancurkan Iran habis-habisan atau, seperti yang mereka katakan, mengembalikannya ke Zaman Batu!!!” tulisnya.
Klaim Trump ini muncul beberapa jam sebelum ia dijadwalkan menyampaikan pidato pada pukul 21.00 waktu setempat di Washington, DC (Kamis 08.00 WIB), yang menurut White House akan berisi pembaruan penting tentang Iran.
Pemerintahan Trump kini menghadapi tekanan yang semakin besar terkait perang AS-Israel melawan Iran, di tengah melonjaknya harga energi global dan meluasnya penolakan publik Amerika terhadap konflik tersebut.
Pada Senin kemarin, Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa harga akan jatuh drastis begitu AS memutuskan untuk mengakhiri perang yang menurutnya bisa terjadi dalam dua hingga tiga minggu ke depan.
Namun, ancaman Trump pada Rabu untuk terus menghancurkan Iran habis-habisan hingga Selat Hormuz dibuka kembali memunculkan pertanyaan, apakah perang ini benar-benar akan segera berakhir seperti yang ia klaim.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Seperti diketahui Selat Hormuz, jalur laut penting di kawasan Teluk yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia kini praktis tertutup akibat perang, sehingga memicu kekhawatiran serius akan perlambatan ekonomi global.
Profesor di Doha Institute for Graduate Studies, Mohamad Elmasry menilai bahwa pernyataan Trump di Truth Social seperti memberi harapan dalam satu napas, lalu langsung menariknya kembali di napas berikutnya.
Halaman Selanjutnya
“Pilihan kata yang ia gunakan sangat penting. Kemarin dia mengatakan ingin membombardir Iran kembali ke Zaman Batu, dan sekarang dia memakai bahasa yang sama kerasnya, menghancurkan mereka hingga lenyap. Ini jelas tidak menenangkan, apalagi jika melihat konteks bahwa Israel dan Amerika Serikat sudah menyerang ratusan sekolah dan rumah sakit (di Iran), serta ribuan rumah warga,” ujar Elmasry kepada Al Jazeera.

3 weeks ago
22



























