Trump Telepon Netanyahu, Minta Kurangi Serangan ke Lebanon

2 weeks ago 9

Jumat, 10 April 2026 - 09:00 WIB

VIVA –Presiden Donald Trump pada Kamis mengonfirmasi bahwa ia telah meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mengurangi serangan besar-besaran yang sedang dilakukan Israel di Lebanon. Menurutnya, operasi tersebut bisa mengancam gencatan senjata yang masih rapuh antara Amerika Serikat dan Iran.

Iran sebelumnya menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu dengan AS, yang dicapai pada Selasa, juga mencakup penghentian pertempuran antara Israel dan Hizbullah. Namun, Israel justru melancarkan serangan terbesar dalam ofensif terbarunya pada Rabu, dengan menyerang 100 lokasi hanya dalam 10 menit. Aksi ini mendorong Iran merespons dengan menutup Selat Hormuz.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di sisi lain, Trump pada Rabu menyatakan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata. Pernyataan ini berbeda dengan pemahaman Iran dan Pakistan, yang menjadi mediator dalam perundingan tersebut.

“Saya sudah berbicara dengan Bibi (Netanyahu), dan dia akan menurunkan intensitasnya. Saya rasa kita memang perlu sedikit menahan diri,” kata Trump dikutip dari laman The Hill, Jumat 10 April 2026.

Trump juga mengulang pernyataan Wakil Presiden JD Vance, yang sebelumnya mengatakan bahwa Israel sebaiknya lebih menahan diri dalam serangan ke Lebanon.

“Netanyahu akan baik-baik saja. Dia akan sedikit menurunkan intensitas serangan. Dia punya masalah dengan Hezbollah, tapi dia akan meredakannya dan semuanya akan tetap terkendali,” ujar Trump dalam wawancara telepon dengan jurnalis Israel.

Sebelumnya, NBC News juga melaporkan bahwa Trump memang meminta Netanyahu untuk mengurangi serangan tersebut.

Sementara itu, Netanyahu dalam pernyataannya di media sosial X mengatakan ia telah menginstruksikan pemerintahnya untuk segera membuka negosiasi langsung dengan Lebanon. Ia menyebut pembicaraan itu akan fokus pada pelucutan senjata Hizbullah dan upaya membangun hubungan damai antara kedua negara.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Perkembangan ini terjadi setelah Israel melancarkan serangan paling intens di Lebanon sejak konflik dengan Iran pecah awal tahun ini. Meski Iran dan Pakistan menyebut Lebanon termasuk dalam gencatan senjata dua minggu, Trump dan Netanyahu justru menegaskan bahwa Lebanon tidak pernah menjadi bagian dari kesepakatan tersebut.

Militer Israel memulai kampanye terbarunya terhadap Hezbollah pada 2 Maret, dua hari setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran. Pada Rabu, militer Israel menyerang 100 target di seluruh Lebanon, menurut juru bicara militer.

Halaman Selanjutnya

Direktur regional Amnesty International untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Heba Morayef, menyebut hari Rabu sebagai hari paling mematikan di Lebanon sejak Israel kembali melancarkan serangan bulan lalu.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |