Kamis, 9 April 2026 - 09:30 WIB
VIVA –Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, memperingatkan Iran bahwa akan bodoh jika merusak kesepakatan gencatan senjata dengan Washington hanya karena serangan Israel di Lebanon.
Meski Pakistan, yang memediasi gencatan senjata itu, secara tegas menyebut bahwa Lebanon termasuk dalam gencatan senjata dua minggu, Vance mengatakan kepada wartawan bahwa AS tidak setuju jika Israel harus berhenti menyerang negara tersebut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Jika Iran ingin membiarkan negosiasi ini gagal dalam konflik di mana mereka sedang mengalami tekanan hebat hanya karena Lebanon, yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan mereka dan yang tidak pernah dikatakan AS termasuk dalam gencatan senjata, itu sepenuhnya pilihan mereka. Kami pikir itu akan bodoh, tapi itu pilihan mereka,” ujar Vance saat meninggalkan Hongaria dikutip dari laman Al Jazeerah, Kamis 9 April 2026
Sebelumnya pada Rabu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, membagikan pernyataan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang mengumumkan gencatan senjata. Ia menyoroti bagian yang menyebut Lebanon.
“Ketentuan gencatan senjata Iran-AS jelas dan tegas AS harus memilih gencatan senjata atau perang yang berlanjut melalui Israel. Tidak bisa keduanya,” tulis Araghchi.
Meski begitu, Presiden AS Donald Trump dan Gedung Putih berpendapat bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut. Vance menepis perbedaan pandangan itu sebagai kesalahpahaman.
“Ada banyak negosiasi yang tidak tulus dan propaganda yang tidak tulus juga. Saya pikir ini murni kesalahpahaman. Saya pikir orang Iran mengira gencatan senjata itu termasuk Lebanon, tapi ternyata tidak,” katanya.
Belum jelas bagaimana kesalahpahaman semacam itu bisa terjadi dalam negosiasi internasional yang sangat penting tersebut. Pejabat AS juga belum menjelaskan mengapa pernyataan Pakistan menyoroti Lebanon sebagai bagian dari gencatan senjata.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Israel diketahui memiliki sejarah panjang melanggar kesepakatan gencatan senjata, termasuk gencatan senjata pada November 2024 dengan Lebanon. Sejak saat itu, Israel hampir setiap hari melancarkan serangan ke Lebanon selama 15 bulan.
Terbaru pada Rabu kemarin, Israel melakukan salah satu serangan paling mematikan dan merusak, dengan puluhan serangan udara yang menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai lebih dari 1.100 lainnya.
Halaman Selanjutnya
Meski demikian, Vance menyebut Israel telah berkomitmen untuk menahan diri di Lebanon.Ia mengatakan, Israel berjanji untuk menahan diri sedikit di Lebanon, karena mereka ingin memastikan bahwa negosiasi AS-Iran berhasil.

2 weeks ago
13



























