5 Alasan Industri Sawit Indonesia Harus Segera Adopsi Teknologi IoT dan AI

2 weeks ago 15

Kamis, 28 Mei 2026 - 14:34 WIB

Jakarta, VIVA – Industri kelapa sawit adalah salah satu pilar terbesar perekonomian Indonesia. Industri ini menyumbang miliaran dolar devisa setiap tahunnya. 

Namun ironisnya, banyak proses di dalamnya masih bergantung pada penilaian manual. Salah satunya adalah proses sortir dan grading Tandan Buah Segar (TBS). Padahal, proses yang masih manual ini tentunya rentan kesalahan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di sinilah teknologi hadir sebagai pembeda. Teknologi seperti Internet of Things (IoT) dapat memberikan dampak positif pada industri sawit. 

Teknologi ini dapat anda temukan di PT Arita Prima Indonesia Tbk. Untuk kebutuhan industri anda, segera hubungi Arita melalui Whatsapp di 0815-1489-8997 atau melalui email di [email protected]

PT Arita Prima Indonesia Tbk juga terus membuka kesempatan bagi para talenta sales potensial untuk menjadi sales partner Arita. Untuk itu, kirimkan CV terbaik anda melalui email ke [email protected]

Berikut 5 alasan kuat mengapa industri Sawit Indonesia sudah saatnya bertransformasi secara digital.

1. Metode Manual Kurang Akurat dan Berbahaya

Buah yang terlalu matang atau masih mentah akan merusak kualitas Crude Palm Oil (CPO) yang dihasilkan, menurunkan harga jual, dan meningkatkan biaya perawatan mesin. Oleh karena itu, buat perlu disortir terlebih dahulu sebelum dijual. 

Proses sortasi TBS secara konvensional mengandalkan penilaian mata dan pengalaman pekerja di area Loading Ramp. Akurasi metode ini hanya berkisar 75–82% yang artinya hampir satu dari lima buah bisa lolos penilaian secara keliru. 

Lebih dari itu, zona Loading Ramp adalah area dengan risiko kecelakaan kerja tinggi. Menempatkan manusia di garis terdepan sortasi setiap hari adalah risiko yang seharusnya bisa dieliminasi dengan teknologi.

2. AI dan Computer Vision Memberikan Akurasi Tinggi

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sistem sortir berbasis Computer Vision dan kecerdasan buatan (AI) mampu membaca gradasi warna TBS secara real-time dengan akurasi lebih dari 95%. Angka ini jauh melampaui kemampuan mata manusia. 

Teknologi ini menggunakan kamera beresolusi tinggi dengan pencahayaan pada panjang gelombang 625nm (spektrum merah). Kamera ini dibuat khusus untuk mendeteksi kematangan buah sawit, bahkan dalam kondisi cahaya yang buruk.

Halaman Selanjutnya

Data yang diambil kemudian Proses analisis berjalan di atas teknologi Edge Computing NVIDIA Jetson Orin NX. Proses ini dapat dilakukan tanpa bergantung pada koneksi internet dengan latensi di bawah 100ms per frame. Hasilnya adalah sortir yang konsisten, cepat, dan bebas dari faktor kelelahan manusia.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |