Pejabat Ekonomi Era SBY Diundang Prabowo ke Istana, Bahas Krisis 2008

6 hours ago 2

Jumat, 22 Mei 2026 - 20:12 WIB

Jakarta, VIVA – Presiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah pejabat ekonomi era Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono untuk menampung pengalaman mereka menghadapi krisis ekonomi 2008 di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat, 22 Mei 2026.

Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai mendampingi Presiden Prabowo dalam pertemuan tersebut. Selain Airlangga, Menteri Purbaya Yudhi Sadewa juga turut mendampingi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Saya didampingi oleh Pak Menteri Keuangan Pak Purbaya, tadi mendampingi Bapak Presiden menerima beberapa tokoh yang pernah menjadi menteri atau gubernur Bank Indonesia," kata Airlangga.

Tokoh yang hadir antara lain mantan Gubernur Bank Indonesia periode 2003-2008 Burhanuddin Abdullah, mantan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas periode 2005-2009 Paskah Suzetta, dan mantan Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas periode 2010-2014 Lukita Dinarsyah Tuwo.

Menurut Airlangga, para tokoh tersebut membagikan pengalaman menghadapi krisis ekonomi pada periode 2004-2014.

"Dalam pertemuan tadi disampaikan beberapa hal yang menjadi pengalaman mereka saat menghadapi krisis di tahun 2008. Kebetulan mereka rata-rata di periodenya antara 2004 sampai 2014," kata dia.

Salah satu pembahasan terkait inflasi yang sempat mencapai sekitar 17 persen serta gejolak nilai tukar akibat kenaikan harga minyak dunia pada 2005.

Airlangga mengatakan harga minyak dunia saat itu sempat menyentuh 140 dolar AS per barel dan berdampak pada kenaikan inflasi hingga 27 persen.

Menurut dia, jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, situasi makro ekonomi Indonesia dinilai relatif lebih baik dengan fundamental yang lebih kuat serta depresiasi rupiah yang berada di kisaran 5 persen, lebih rendah dibandingkan berbagai kasus di masa lalu.

"Kalau kita cek dengan konteks hari ini, relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat, dan depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen. Jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya. 
Dari situ sebetulnya kita belajar bagaimana mengantisipasi dan apa yang diperlukan untuk menghadapi situasi-situasi ke depan," kata Airlangga.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut dia, Presiden juga meminta pemerintah memantau regulasi untuk memperkuat sektor keuangan dan menjaga kehati-hatian perbankan nasional.

Selain itu, pemerintah akan mengkaji penguatan permodalan perbankan mengingat jumlah bank di Indonesia cukup banyak.

Halaman Selanjutnya

"Presiden meminta kami bersama Menteri Keuangan untuk memonitor bagaimana regulasi-regulasi untuk memperkuat situasi finansial dan juga menjaga prudensial dari perbankan kita. Kita memang jumlah perbankan banyak dan mungkin kita perlu kaji bagaimana permodalannya untuk diperkuat," kata Airlangga.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |