Jumat, 12 Juni 2026 - 22:00 WIB
VIVA –Kelompok peretas pro-perlawanan Handala mengklaim telah membobol sistem drone milik Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) dan mengancam akan menargetkan ajang Piala Dunia yang saat ini sedang berlangsung.
Jumat 12 Juni, lembaga pemantau aktivitas dunia maya SITE Intelligence Group mempublikasikan pernyataan Handala yang mengaku telah memiliki akses selama berbulan-bulan terhadap setiap gambar dan setiap tersangka yang terekam oleh drone first-person view (FPV) yang digunakan FBI.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menurut pernyataan tersebut, drone-drone itu dilengkapi teknologi pengenalan wajah dan pemindaian pelat nomor kendaraan yang digunakan dalam operasi kontra-terorisme.
“Lebih baik perketat keamanan Piala Dunia Anda. Kami sama sekali tidak menyukai beberapa tim yang berpartisipasi. Jangan lupa, FPV ada di mana-mana. Anda tidak pernah tahu kapan salah satunya bisa berakhir tepat di bus tim Anda,” kata Handala dalam pernyataan yang dikutip dari laman presstv.ir, Jumat 12 Juni 2026.
Handala juga merilis sejumlah foto dan rekaman video yang diklaim berasal dari drone yang berhasil mereka retas. FBI sendiri dilaporkan mengerahkan drone di sekitar stadion-stadion Piala Dunia untuk mengantisipasi ancaman dari pesawat atau drone yang tidak memiliki izin.
Sebagai bagian dari pengamanan turnamen yang dimulai pada Kamis lalu, penerbangan drone juga dilarang di atas stadion yang menjadi lokasi pertandingan maupun area acara pendukung yang berkaitan dengan Piala Dunia.
Sebelumnya, pada Maret lalu, Handala mengklaim berhasil melumpuhkan sistem FBI yang disebut-sebut tidak dapat ditembus. Kelompok itu mengaku memperoleh akses penuh terhadap data milik Direktur FBI, Kash Patel, hanya dalam hitungan jam. Handala menyatakan serangan siber tersebut dilakukan setelah FBI mengumumkan hadiah sebesar 10 juta dolar AS bagi siapa pun yang dapat membantu menangkap anggota kelompok tersebut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kelompok itu kembali menegaskan bahwa Washington tidak akan pernah bisa membungkam suara perlawanan melalui suap maupun ancaman. Handala juga menyebut operasi siber tersebut didedikasikan untuk 84 personel angkatan laut yang gugur di atas kapal perang Iran IRIS Dena pada 4 Maret.
Menurut klaim Handala, kapal tersebut tengah menjalankan misi resmi di perairan internasional untuk mengikuti latihan angkatan laut di India ketika terkena torpedo MK 48 yang diluncurkan dari kapal selam Angkatan Laut Amerika Serikat sekitar 40 mil laut dari pesisir Galle, Sri Lanka.
Halaman Selanjutnya
Sebagai informasi, Klaim-klaim yang disampaikan Handala dalam pernyataan ini belum dapat diverifikasi secara independen. Hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari FBI terkait dugaan peretasan tersebut maupun tuduhan lain yang disampaikan kelompok tersebut.

3 hours ago
2















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5182268/original/044611800_1744080588-WhatsApp_Image_2025-04-08_at_09.22.25.jpeg)