Jakarta, VIVA – Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan atau AI digadang-gadang sebagai revolusi besar dunia kerja. Namun, realitas di lapangan justru menunjukkan arah yang berbeda.
Alih-alih disambut antusias, banyak pekerja justru mulai melakukan perlawanan diam-diam terhadap adopsi AI di tempat kerja mereka.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sebuah laporan global terbaru dari SAP subsidiary SAP melalui WalkMe yang melibatkan 3.750 pekerja dan eksekutif di 14 negara mengungkap fakta mengejutkan. Lebih dari 54 persen pekerja memilih menghindari alat AI perusahaan dalam 30 hari terakhir dan menyelesaikan pekerjaan secara manual.
Bahkan, 33 persen tidak menggunakan AI sama sekali. Artinya, hampir 8 dari 10 pekerja enterprise secara aktif menghindari atau menolak teknologi yang sudah dibeli perusahaan.
Fenomena ini sangat kontras dengan beberapa tahun lalu ketika “shadow AI” justru meledak. Dalam laporan, disebutkan bahwa karyawan diam-diam memakai chatbot seperti ChatGPT dan Claude untuk mempercepat pekerjaan.
Sebuah studi MIT bahkan menemukan bahwa pekerja di lebih dari 90 persen perusahaan menggunakan akun chatbot pribadi tanpa izin, sementara hanya 40 persen perusahaan yang menyediakan langganan resmi large language model (LLM). Saat itu, para pekerja menyebutnya sebagai cara untuk menyelesaikan pekerjaan, bukan pelanggaran.
Namun kini, arah berubah. Ketakutan akan dampak AI membuat banyak pekerja justru berhenti menggunakan teknologi tersebut. Bahkan, hanya 9 persen pekerja yang percaya AI untuk keputusan bisnis kompleks, jauh dibanding 61 persen eksekutif, menciptakan kesenjangan kepercayaan sebesar 52 poin.
Dalam laporan yang sama, ditemukan juga bahwa 88 persen eksekutif menganggap pekerja sudah memiliki alat yang cukup, tetapi hanya 21 persen pekerja yang setuju. Dunia kerja seolah terbagi menjadi dua realitas yang berbeda.
Ekonom Steve Hanke dari Johns Hopkins University bahkan skeptis terhadap dampak AI. “AI tidak memberikan hasil,” ungkapnya, sebagaimana dikutip dari Fortune, Senin, 13 April 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Selamat datang di dunia nyata. Lupakan gelembung AI. Anda tahu, itu tidak memberikan hasil. Anda melihat semua survei dan ya, semua orang menggunakannya sedikit, tetapi jika Anda telusuri lebih dalam, itu tidak banyak membantu,” jelasnya.
Sementara itu, CEO WalkMe Dan Adika menjelaskan bahwa masalah utama bukan hanya teknologi, tetapi kemampuan pekerja. “Kami memberikan setiap karyawan mobil sport, Ferrari, tetapi mereka tidak tahu cara mengemudi. Mereka tidak punya bahan bakar dalam beberapa kasus, yaitu konteks. Cara mengemudi adalah prompt,” kata dia.
Halaman Selanjutnya
“Mereka memiliki Ferrari, tetapi tidak ada pengemudi, tidak ada bahan bakar, dan tidak ada jalan. Jadi Anda tidak bisa melaju cepat,” sambungnya.

1 week ago
8



























