Jakarta, VIVA – Harga minyak dunia kembali bergejolak setelah upaya negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran kembali gagal mencapai titik temu. Ketegangan geopolitik yang meningkat di kawasan Timur Tengah ini, langsung berdampak pada lonjakan harga minyak mentah global.
Pada perdagangan terbaru, harga minyak Brent tercatat melonjak lebih dari 2 persen hingga mencapai US$107,89 per barel atau setara sekitar Rp1.834.130 per barel (asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS). Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat (WTI) juga naik lebih dari 2 persen menjadi US$96,63 per barel atau setara sekitar Rp1.642.710.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Lonjakan ini dipicu oleh gagalnya rencana putaran kedua perundingan damai antara AS dan Iran. Situasi semakin memanas setelah adanya laporan bahwa pasukan Garda Revolusi Iran menaiki dua kapal kargo di sekitar Selat Hormuz, meningkatkan kekhawatiran gangguan jalur perdagangan energi global.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan membatalkan rencana pengiriman utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Islamabad, Pakistan, untuk melanjutkan pembicaraan dengan Iran.
"Terlalu banyak waktu yang terbuang untuk perjalanan, terlalu banyak pekerjaan! Selain itu, ada perselisihan internal dan kebingungan besar di dalam 'kepemimpinan' mereka," tulis Trump dalam unggahannya di Truth Social, sebagaimana dikutip dari CNBC, Senin, 27 April 2026.
"Tidak ada yang tahu siapa yang bertanggung jawab, termasuk mereka sendiri. Selain itu, kami memiliki semua kartu; mereka tidak punya! Jika mereka ingin berbicara, mereka hanya perlu menelepon!!!"
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sempat melakukan perjalanan ke Islamabad pada akhir pekan, namun hanya bertemu dengan pejabat Pakistan tanpa adanya pertemuan dengan pihak Amerika Serikat. Hal ini semakin mempertegas mandeknya proses diplomasi yang diharapkan dapat meredakan ketegangan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei juga menegaskan posisi negaranya. "Tidak ada pertemuan yang direncanakan antara Iran dan AS."
Kondisi ini, membuat pasar energi global berada dalam posisi waspada. Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dunia kini kembali menjadi titik krusial yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan jika konflik terus berlanjut.
Halaman Selanjutnya
Para pelaku pasar kini memantau ketat perkembangan geopolitik yang dapat memicu volatilitas harga minyak lebih lanjut dalam waktu dekat.

2 hours ago
1



























