VIVA – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) berencana menutup sejumlah program studi (prodi) yang dinilai tidak lagi relevan dengan kebutuhan industri dan pertumbuhan ekonomi di masa depan.
Rencana ini disampaikan Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek Badri Munir Sukoco dalam Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026 di Universitas Udayana, Kabupaten Badung, Bali, pada Kamis, 23 April 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menurut Badri, Indonesia memiliki masalah besar dengan bonus demografi dan ketidaksesuaian antara pendidikan, pendidikan tinggi, dan industri, sehingga tidak saja menimbulkan oversupply tapi juga missmatch ketika dihadapkan pada pasar kerja.
Setiap tahun, kata dia, ada sekitar 1,9 juta generasi muda lulusan sekolah, dimana 1,7 juta diantaranya merupakan lulusan sarjana dan diploma.
Pada saat yang sama, ketika para generasi muda lulus sekolah atau lulus sarjana, dihadapkan pada masalah besar karena kesulitan mencari pekerjaan karena latar belakang pendidikan yang tidak cocok dengan peluang kerja yang ada.
"Nanti mungkin ada beberapa hal yang harus kami eksekusi dalam waktu yang tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup untuk bisa meningkatkan relevansi," kata Badri dikutip dari siaran ulang Youtube Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Senin.
Badri menyoroti kenyataan bonus demografi yang harus diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia yang mumpuni dan adaptif dengan pertumbuhan ekonomi ke depan.
Dalam hal ini, lanjut Bandri, pendidikan tinggi diharapkan bisa menyiapkan generasi muda yang kompeten untuk mengantarkan Indonesia menjadi negara maju, dengan menyesuaikan pada kebutuhan pertumbuhan ekonomi ke masa depan.
"Kalau bahasa kami saat ini perguruan tinggi yang ada di Indonesia sebagian besar ya itu menggunakan market driven strategi. Market driven itu apa? yang lagi laris apa dibuka gitu prodinya," ujarnya
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Disamping itu, Badri menjelaskan bahwa pemerintah telah mendorong 8 industri strategis yang diharapkan dapat mendorong dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen.
Antara lain: energi, pangan, kesehatan, pertahanan, maritim, hilirisasi, digitalisasi, dan manufaktur maju. Ia mendorong perguruan tinggi untuk menyesuaikan program studi pada 8 industri strategis yang dicanangkan pemerintah:
Halaman Selanjutnya
"Program studinya perlu dikembangkan untuk prodi-prodi baru yang sesuai dengan delapan industri strategis tadi. Nah, tentu perlu ada kerelaan dari masing-masing rektor untuk melakukan kajian itu disesuaikan agar prodinya itu memang relevan," ungkap Badri

4 hours ago
2



























