Jakarta, VIVA – Perkembangan industri pariwisata global menunjukkan adanya pergeseran preferensi wisatawan yang semakin mengutamakan kualitas pengalaman dibanding sekadar destinasi. Salah satu tren yang kini semakin mendapat perhatian adalah family-centric travel, sebuah konsep perjalanan yang menempatkan kebersamaan keluarga sebagai inti dari pengalaman wisata.
Secara sederhana, family-centric travel merujuk pada pola perjalanan yang dirancang khusus untuk mempererat hubungan antaranggota keluarga. Tidak hanya sekadar liburan bersama, konsep ini menekankan pada aktivitas yang mendorong interaksi, komunikasi, serta penciptaan momen berharga yang dapat dikenang dalam jangka panjang.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dalam praktiknya, tren ini mendorong pelaku industri pariwisata untuk menghadirkan pengalaman yang lebih personal dan relevan.
Misalnya, penyedia akomodasi kini menawarkan program kegiatan keluarga seperti kelas memasak bersama, permainan interaktif lintas generasi, hingga paket wisata edukatif yang dapat dinikmati oleh anak-anak maupun orang dewasa.
Selain itu, destinasi wisata juga mulai mengembangkan fasilitas ramah keluarga, seperti ruang bermain, area edukasi, hingga tur tematik berbasis storytelling.
Fenomena ini tidak terlepas dari perubahan gaya hidup masyarakat modern. Di tengah kesibukan dan keterbatasan waktu, liburan menjadi salah satu momen penting untuk membangun kembali kedekatan emosional dalam keluarga. Oleh karena itu, perjalanan yang memberikan nilai kebersamaan menjadi semakin diminati dibanding perjalanan yang bersifat individualistik.
Dari perspektif industri perjalanan, Brian Kennedy menyoroti bahwa keterbatasan mobilitas global akibat dinamika geopolitik justru mendorong lahirnya pendekatan baru dalam merancang pengalaman wisata yang lebih dekat, personal, dan relevan dengan kebutuhan wisatawan saat ini.
“Industri pariwisata menuntut kita untuk peka terhadap perubahan kondisi. Kita tidak hanya menjual perjalanan, tetapi menghadirkan pengalaman yang relevan dan bernilai sesuai kebutuhan wisatawan,” ujar Brian Kennedy, Director Dunia Travel, dalam keterangannya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia juga menyoroti berkembangnya tren family-centric travel. Tren perjalanan ini dirancang untuk menciptakan kedekatan dan mempererat hubungan antaranggota keluarga melalui pengalaman berlibur bersama keluarga yang lebih bermakna.
Lebih lanjut, family-centric travel juga dinilai mampu memberikan dampak positif secara psikologis. Aktivitas bersama dalam suasana santai dapat meningkatkan kualitas komunikasi, memperkuat rasa saling memahami, serta menciptakan ikatan emosional yang lebih kuat di antara anggota keluarga.
Halaman Selanjutnya
Pembahasan mengenai tren ini disampaikan dalam Seminar Nasional bertajuk ‘Evolve in Practice: How Hospitality and Tourism Professionals Grow Through Change’. Sesi tersebut menghadirkan tiga alumni Universitas Pelita Harapan (UPH) dari berbagai bidang industri, yakni Leo Satria (Digital Marketing Enthusiast & Culinary Content Creator, alumni Manajemen Perhotelan 2017), Andy Gozali (Sous Chef The Crown by Kirk Westaway Restaurant dan Co-Founder Burnt.id, alumni Manajemen Perhotelan 2011), serta Brian Kennedy (Director Dunia Travel, alumni Usaha Perjalanan Wisata 2017), yang berbagi perspektif mengenai perkembangan industri hospitality dan pariwisata.

1 hour ago
1



























