Jakarta, VIVA – Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam beberapa tahun terakhir menghadirkan berbagai kemudahan bagi masyarakat. Namun, di balik kemampuannya yang semakin canggih, AI juga memunculkan tantangan baru, terutama terkait keaslian identitas di ruang digital.
Saat ini, teknologi AI generatif mampu meniru wajah, suara, hingga ekspresi seseorang dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi. Fenomena ini dikenal sebagai deepfake, yaitu teknologi yang memungkinkan pembuatan video, gambar, atau rekaman suara palsu yang tampak dan terdengar seperti asli.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Tidak sedikit kasus penipuan digital yang memanfaatkan teknologi tersebut untuk menyamar sebagai individu tertentu demi memperoleh keuntungan.
Meningkatnya ancaman deepfake membuat persoalan identitas digital menjadi perhatian penting. Jika sebelumnya seseorang dapat mengenali identitas melalui foto atau suara, kini metode tersebut tidak lagi cukup. Teknologi AI memungkinkan pelaku kejahatan menciptakan identitas palsu yang sulit dibedakan oleh manusia.
Kondisi ini membuat kepercayaan digital atau digital trust menjadi isu yang semakin krusial. Dalam dunia yang semakin terhubung secara digital, berbagai aktivitas mulai dari transaksi keuangan, penandatanganan dokumen, hingga komunikasi bisnis bergantung pada kemampuan untuk memastikan bahwa identitas yang digunakan benar-benar autentik. Padahal, kepercayaan digital akan menjadi fondasi utama dalam berbagai aktivitas digital di masa depan.
"Seiring dengan meningkatkan aktivitas digital lintas industri, kepercayaan merupakan mata uang atau currency utama dalam interaksi digital. Telerbih di era Artificial Intelligence (AI), semakin banyak keputusan, transaksi, hingga proses bisnis yang bergantung pada identitas yang terpercaya dan dokumen digital yang autentik. Hal ini juga yang membuat kami optimis bahwa kebutuhan terhadap kepercayaan digital atau digital trust menjadi semakin penting dalam berbagai aktivitas di ruang digital yang turut terefleksi pada pertumbuhan Privy hingga saat ini,” ujar Marshall Pribadi selaku CEO dan Founder Privy, dalam gelaran MatchCAP Singapore 2026.
Tantangan verifikasi identitas di era AI semakin kompleks karena pelaku kejahatan tidak lagi hanya memalsukan dokumen, tetapi juga dapat memanipulasi suara, video, dan identitas visual. Oleh karena itu, berbagai pihak mulai mengembangkan sistem verifikasi yang lebih komprehensif untuk memastikan keaslian identitas pengguna.
Halaman Selanjutnya
Dalam konsep digital trust, terdapat tiga lapisan utama yang dapat membantu menjaga keamanan identitas digital. Pertama adalah Trusted Identity atau Identitas Terpercaya, yang berfungsi memastikan identitas individu maupun institusi dapat diverifikasi secara akurat. Kedua adalah Trusted Communication Channel atau Saluran Komunikasi Terpercaya yang menjamin proses pertukaran informasi berlangsung melalui jalur yang aman dan dapat diverifikasi. Ketiga adalah Trusted Transaction Authenticity atau Keaslian Transaksi Terpercaya yang memastikan setiap aktivitas digital memiliki bukti autentik yang dapat ditelusuri.

4 days ago
9














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6284541/original/079194300_1779159392-unnamed__42_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5575090/original/094355400_1778037587-cropped-6b94bc59-8fb4-4b76-874b-71a6a7262057.jpg)