Jakarta, VIVA – Anggaran yang dialokasikan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali jadi sorotan publik saat ini. Hal tersebut setelah adanya klaim bahwa program ini membebani sektor pendidikan.
Merespons hal tersebut, para akademisi menilai anggaran MBG dan pendidikan justru dinilai saling berkesinambungan. Program MBG dinilai sebagai suplemen bagi pendidikan untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia generasi muda bangsa.
Guru Besar Keamanan Pangan dan Gizi IPB Ahmad Sulaeman menilai, MBG tidak semestinya dipersepsikan sebagai beban bagi sektor pendidikan. Angapan itu disebut tidak mendasar.
“Justru ini bagian dari pendidikan. MBG itu bagian dari pendidikan, juga untuk membangun nasionalisme bagaimana mengentaskan kemiskinan. Memang jangan diadu domba dengan peran guru,dua-duanya harus jalan,” ujar Ahmad dikutip dari keterangannya, Sabtu, 24 Januari 2026.
Senadam, Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watc Iskandar Sitorus mengkritik keras publik yang membandingkan antara program pendidikan dan makan bergizi gratis yang belakangan menggaung di ruang publik. Menurutnya, mempertentangkan keduanya adalah kekeliruan logika yang mengabaikan realitas dasar.
“Anak tidak akan bisa belajar dengan perut kosong. Negara wajib melihat nutrisi dan pendidikan sebagai satu kesatuan hak konstitusional yang tidak dapat dipisahkan,” ujarnya.
Iskandar menegaskan bahwa pemenuhan gizi merupakan fondasi pendidikan. Berbagai kajian kesehatan dan pendidikan menunjukkan bahwa kekurangan nutrisi berdampak langsung pada konsentrasi, daya serap, dan perkembangan kognitif anak.
“Kalau pondasinya rapuh, hasil pendidikannya juga akan rapuh,” katanya.
Pentingnya pemenuhan gizi bagi keberlangsungan pendidikan juga telah terbukti secara ilmiah. Menurut Prof. Ahmad, gizi harian anak yang terpenuhi berkontribusi terhadap peningkatan kemampuan kognitif dan prestasi akademik anak.
“Berbagai studi internasional menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan asupan gizi seimbang memiliki konsentrasi belajar lebih baik, daya ingat lebih kuat, serta performa akademik yang lebih stabil,” ungkapnya.
Praktik pemenuhan gizi harian telah lama diterapkan di sejumlah negara maju. Di Amerika Serikat misalnya, program makan sekolah seperti School Breakfast Program dan National Lunch Program menjadi bagian dari kebijakan nasional. Sekolah mengambil peran aktif dalam pemenuhan gizi siswa sehingga anak tidak lagi terbebani persoalan sarapan atau makan siang. Pendekatan ini dinilai efektif dalam mendukung kesehatan sekaligus kesiapan belajar anak di kelas.
Halaman Selanjutnya
Selain berdampak pada peserta didik, MBG juga dinilai berpotensi memberikan efek pengganda (multiplier effect) terhadap perekonomian. Jika dirancang dengan matang, program ini dapat mendorong keterlibatan UMKM, petani, dan produsen pangan lokal dalam rantai pasok.

5 hours ago
2















