Jakarta, VIVA – Upaya menurunkan angka stunting di Indonesia terus menunjukkan perkembangan positif. Meski demikian, masalah gizi kronis ini masih menjadi tantangan yang membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting berada di angka 19,8 persen. Artinya, sekitar satu dari lima balita di Indonesia masih mengalami stunting.
Angka tersebut menunjukkan bahwa stunting belum sepenuhnya teratasi. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan anak saat ini, tetapi juga berpotensi memengaruhi kualitas sumber daya manusia Indonesia pada masa mendatang. Oleh karena itu, pencegahan stunting perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara keluarga, tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Anak Pendek Belum Tentu Mengalami Stunting
Masih banyak orang tua yang menganggap setiap anak bertubuh pendek pasti mengalami stunting. Padahal, keduanya merupakan kondisi yang berbeda.
Anak pendek dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Misalnya, jika kedua orang tua memiliki postur tubuh yang relatif pendek, anak juga berpeluang memiliki tinggi badan yang lebih rendah dibandingkan rata-rata seusianya. Meski demikian, anak tetap dapat tumbuh sehat apabila perkembangan fisik, kemampuan motorik, dan fungsi kognitifnya berlangsung sesuai usia.
Sementara itu, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi dalam waktu lama, terutama sejak masa kehamilan hingga awal kehidupan anak. Diagnosis stunting tidak hanya didasarkan pada tinggi badan, tetapi juga melalui pengukuran antropometri sesuai standar usia dan jenis kelamin.
Karena itu, anak yang terlihat pendek belum tentu mengalami stunting. Sebaliknya, anak yang mengalami stunting membutuhkan evaluasi menyeluruh agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.
Stunting Berkaitan Erat dengan Anemia Defisiensi Besi
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Stunting juga tidak dapat dipisahkan dari berbagai persoalan gizi lainnya, salah satunya Anemia Defisiensi Besi (ADB). Kekurangan zat besi masih banyak ditemukan pada kelompok ibu hamil maupun anak, sehingga menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pencegahan stunting.
ADB pada anak diketahui dapat memengaruhi perkembangan otak dan fungsi kognitif. Dampaknya meliputi penurunan kemampuan berkonsentrasi, perhatian, hingga daya ingat. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi proses belajar sekaligus tumbuh kembang anak secara keseluruhan.
Halaman Selanjutnya
Inilah sebabnya, pemenuhan kebutuhan zat besi menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan anak sejak usia dini. Pencegahan anemia juga perlu dilakukan sejak masa kehamilan agar risiko gangguan pertumbuhan dapat diminimalkan.

2 weeks ago
4











