Jakarta, VIVA – Lagu "Lalaki Langit Lalanang Bejad" yang diperkenalkan oleh Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein mendadak menjadi salah satu topik yang ramai diperbincangkan di media sosial. Lagu berbahasa Sunda tersebut menuai pro dan kontra setelah sejumlah penggalan liriknya viral dan dianggap mengandung narasi yang merendahkan perempuan.
Berikut ini kronologi awal mula kontroversi lagu "Lalaki Langit Lalanang Bejad" ramai di media sosial hingga Bupati Purwakarta akhirnya buka suara.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
1. Penggalan Lirik Viral di Media Sosial
Polemik bermula ketika sejumlah potongan lirik lagu "Lalaki Langit Lalanang Bejad" beredar luas di berbagai platform media sosial. Beberapa lirik dianggap menjadikan tubuh perempuan dan persoalan kesehatan reproduksi sebagai bahan candaan.
Salah satu penggalan lirik yang paling banyak disorot berbunyi:
"Makasih Tuhan sudah menciptakan aku sebagai laki-laki, aku jadi enggak usah beli kutang yang busanya lebih besar daripada payudara."
Lirik lain yang juga memicu perdebatan adalah:
"Sebab kalau aku jadi perempuan, SMP kelas 3 aku udah keguguran 7 kali."
Serta penggalan berikut:
"Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku sebagai laki-laki, tak usah berkeliling apotek kalau telat datang bulan."
Potongan-potongan lirik tersebut kemudian ramai dikritik karena dinilai menjadikan pengalaman biologis perempuan sebagai bahan humor.
2. Atalia Praratya Melontarkan Kritik
Kontroversi semakin membesar setelah Atalia Praratya ikut memberikan tanggapannya melalui media sosial. Ia mengaku telah berusaha memahami isi lagu tersebut, namun tidak menemukan pesan yang menurutnya menghormati perempuan.
"Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan."
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menurut Atalia, persoalan tersebut bukan sekadar soal kebebasan berkarya, tetapi juga menyangkut nilai budaya Sunda. "Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah... Dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan... Mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih?" sambungnya.
"Sebodoh apa pun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi.. Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," pungkasnya.
Halaman Selanjutnya
Tak hanya itu, Atalia juga mempertanyakan mengapa narasi yang dinilai patriarkal justru lahir dari seorang kepala daerah. "Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?"

1 week ago
5











