Berkaca dari Kasus YTR, Ternyata Ini 8 Alasan Korban Toxic Relationship Sulit Lepas dari Hubungan

2 weeks ago 11

Selasa, 30 Juni 2026 - 10:11 WIB

Jakarta, VIVA – Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap YTR di Bandung kembali memicu diskusi luas di masyarakat. Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah mengapa korban tidak melarikan diri atau meminta pertolongan selama diduga mengalami penyiksaan dalam waktu yang lama. 

Pertanyaan tersebut kemudian dijawab oleh keluarga YTR, yang menjelaskan bahwa kondisi fisik korban yang penuh luka menjadi faktor utama sehingga ia tidak mampu kabur maupun berteriak meminta bantuan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam unggahan di media sosial, keluarga mengungkapkan bahwa YTR beberapa kali melakukan perlawanan. Namun, upaya tersebut justru berujung pada kekerasan yang menyebabkan luka di mata, bibir, hidung, telinga, hingga kaki. 

Sebelumnya, korban juga mengaku mengalami gangguan penglihatan dan takut kembali disiksa apabila mencoba melawan. Penjelasan ini sekaligus mengingatkan bahwa korban kekerasan sering kali berada dalam situasi yang jauh lebih rumit daripada yang terlihat dari luar.

Kasus YTR juga menjadi pengingat bahwa korban dalam hubungan yang penuh kekerasan atau toxic relationship tidak selalu mudah meninggalkan pelaku. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa korban dapat mengalami tekanan psikologis, manipulasi, hingga ketakutan yang membuat mereka merasa tidak memiliki jalan keluar. 

Melansir dari Healthline, berikut ini beberapa alasan mengapa korban toxic relationship sering kali sulit keluar dari hubungan.

1. Terjebak dalam trauma bonding

Salah satu penyebab paling umum adalah trauma bonding, yaitu ikatan emosional yang terbentuk akibat siklus kekerasan dan kasih sayang yang terus berulang.

Pelaku biasanya bergantian melakukan tindakan menyakitkan, kemudian meminta maaf, menunjukkan perhatian, atau bersikap romantis. Pola ini membuat korban terus berharap bahwa pasangan akan berubah sehingga memilih bertahan meski terus disakiti.

2. Takut menerima kekerasan yang lebih parah

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Korban sering kali menyadari bahwa setiap bentuk perlawanan dapat memicu kekerasan yang lebih berat. Dalam banyak kasus, ancaman, intimidasi, maupun pengalaman disiksa sebelumnya membuat korban memilih diam demi bertahan hidup. Rasa takut ini dapat membuat seseorang enggan melarikan diri meski memiliki kesempatan.

3. Kondisi fisik sudah terlalu lemah

Halaman Selanjutnya

Kekerasan yang berlangsung dalam waktu lama dapat menyebabkan korban mengalami luka serius, kelelahan, kekurangan gizi, atau gangguan kesehatan lainnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |