Jakarta, VIVA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun, Ogi Prastomiyono menyampaikan, saat ini belanja kesehatan mandiri (out of pocket) masyarakat telah mencapai hingga Rp 175 triliun.
Karenanya, Ogi mengaku bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah guna menekan angka belanja kesehatan mandiri masyarakat tersebut, sambil mendorong masyarakat untuk mulai memanfaatkan jaminan asuransi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Terlebih, Ogi menjabarkan bahwa saat ini porsi masyarakat yang masih membayar biaya kesehatan secara mandiri tercatat masih berada di angka 28,8 persen.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono
Photo :
- [Mohammad Yudha Prasetya]
"Masyarakat yang belum menggunakan produk untuk program kesehatan, baik BPJS maupun asuransi kesehatan yang mirip komersial itu, masih cukup besar," kata Ogi di kawasan SCBD, Sudirman, Jakarta Selatan, Senin, 13 April 2026.
"Ada 28,8 persen dari total pembelanjaan kesehatan itu masih bayar pakai uang sendiri atau disebut dengan out of pocket, yang jumlahnya itu Rp 175 triliun. Nah itu yang kita mau turunkan," ujarnya.
Ogi menjelaskan, saat ini kontribusi asuransi kesehatan komersial terhadap total belanja kesehatan nasional masih relatif kecil, karena masih berada di angka 5 persen.
Karenanya, OJK bersama Kementerian Kesehatan saat ini tengah berupaya untuk terus memperbaiki efisiensi dan manfaat produk-produk asuransi, supaya ke depannya bisa menjadi lebih menarik bagi masyarakat.
"Karena mereka melihat apa untung ruginya (ikut asuransi)? Bagaimana prosesnya, (apakah) lebih efisien dan lebih baik, dan sebagainya," kata Ogi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dia kembali mengingatkan bahwa angka 28,8 persen dari jumlah masyarakat yang masih belanja kesehatan secara mandiri atau out of pocket itu, memang terbilang masih sangat besar. Karenanya, OJK akan berupaya untuk menggeser mereka ke asuransi komersial, yang saat ini jumlahnya masih 5 persen dari total belanja kesehatan nasional.
"Nah, itu yang kita mau tingkatkan, dan kita sekarang bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan untuk merealisasikannya," ujarnya.
Perang AS-Israel vs Iran dan PHK Massal Hantam Dompet Warga, Anggaran Belanja Mulai Dikurangi
Perang di Timur Tengah dan gelombang PHK membuat konsumen menahan belanja. Harga naik, inflasi mengintai, dan perusahaan mulai menyesuaikan strategi. Baca di sini
VIVA.co.id
13 April 2026

1 week ago
9



























