Bitcoin Cetak Rekor Tertinggi Tembus Rp1,28 Miliar, Harapan Damai AS-Iran Dorong Reli Kripto

9 hours ago 1

Selasa, 14 April 2026 - 19:30 WIB

Jakarta, VIVA – Aset kripto paling berharga, Bitcoin, kembali bertenaga setelah terkurung di kisaran di bawah level US$70.000. Harga Bitcoin terpantau naik menjadi US$$74.901 atau sekitar Rp 1,28 miliar (estimasi kurs Rp 17.130 per dolar AS) pada perdagangan Selasa, 14 April 2026. 

Posisi tersebut merupakan level tertinggi dalam empat minggu terakhir atau tepatnya sejak 17 Maret 2026. Namun, harga Bitcoin terkoreksi tipis setelah mencetak rekor tertinggi dan diperdagangkan di kisaran US$74.400 pada Selasa pagi waktu Asia. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ethereum ikut melonjak sekitar 5 persen menjadi US$2.370 atau sekitar Rp 40,6 juta. 

Kenaikan pesat didorong harapan berakhirnya perang di Timur Tengah dan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Presiden Donald Trump, mengklaim Iran telah membuka komunikasi untuk pembicaraan damai yang muncul meskipun AS sebelumnya memulai blokade laut di Selat Hormuz.

Platform HPB Rilis Fitur Baru, Cara Berkirim Kripto Lewat Seluruh Jejaring Sosial. (FOTO: Unsplash/André François McKenzie)

Optimisme pasar terhadap potensi meredanya konflik turut mendorong kenaikan aset berisiko secara luas, termasuk indeks acuan di kawasan Asia. Angin sengar sehubung ekspektasi kesepakatan damai dapat menekan harga minyak dan mendukung pertumbuhan ekonomi global.

“Bitcoin mengikuti reli aset berisiko secara luas. Meski blokade sempat dilakukan, pasar melihat langkah Trump sebagai sinyal positif karena memberikan ruang waktu lebih panjang untuk mencapai kesepakatan dan membuka peluang negosiasi lanjutan,” jelas Chief Investment Officer Ericsenz Capital, Damien Loh, dikutip dari Money Control pada Selasa, 14 April 2026.

Ia menambahkan, kinerja Bitcoin relatif lebih baik dibandingkan aset berisiko lainnya. Namun, Loh tidak menampik belum ada sinyal kenaikan signifikan dalam jangka pendek.

“Bitcoin masih diperdagangkan lebih baik dibandingkan aset berisiko lainnya, namun belum akan melonjak tajam hingga ada kepastian regulasi seperti pengesahan Clarity Act di AS,” katanya.

Analis IG Markets, Tony Sycamore, menilai pergerakan Bitcoin saat ini semakin menyerupai aset berisiko ketimbang aset lindung nilai. Ia memprediksi tren bullish jangka menengah baru akan terbentuk jika Bitcoin mampu menembus level resistance penting.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Untuk prospek yang lebih bullish, Bitcoin perlu menembus dan bertahan di atas level US$79.000,” tambahnya.

Sejak terkoreksi dari rekor tertinggi sepanjang masa di level US$126.000 pada bulan Oktober 2025, Bitcoin cenderung bergerak dalam rentang sempit dalam dua bulan terakhir. Meski demikian, aset ini tetap menunjukkan ketahanan dibandingkan instrumen tradisional sejak konflik AS-Iran memanas pada akhir Februari 2026.

Halaman Selanjutnya

Bitcoin telah menguat lebih dari 10 persen sejak 27 Februari 2026. Sebaliknya, emas justru melemah hampir 10 persen, sementara indeks S&P 500 cenderung stagnan pada periode yang sama.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |