Makkah, VIVA – Tradisi menitipkan doa kepada kerabat atau sahabat yang hendak berangkat ke Tanah Suci telah lama ada di tengah masyarakat Indonesia. Banyak orang berharap doa mereka dipanjatkan di depan Ka'bah, tempat yang diyakini memiliki keutamaan sebagai lokasi mustajab.
Namun, di balik tradisi tersebut, muncul pertanyaan mengenai bagaimana hukum dan etika yang tepat agar tidak membebani para jemaah haji. Scroll lebih lanjut yuk!
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dalam pandangan syariat, menitipkan doa kepada orang yang sedang menunaikan ibadah haji atau umrah pada dasarnya diperbolehkan. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Buya Yahya dalam salah satu kajiannya. Ia menyebutkan bahwa praktik ini memiliki dasar dari sunnah Nabi Muhammad SAW.
Dalam riwayat yang disampaikan, ketika Umar bin Khattab hendak melaksanakan ibadah ke Tanah Suci, Nabi Muhammad SAW pernah berpesan: "Bawa aku dalam doamu."
Hal ini menjadi dalil bahwa meminta didoakan oleh orang yang berada di tempat mulia merupakan amalan yang dibolehkan.
Meski demikian, terdapat etika penting yang perlu diperhatikan. Buya Yahya mengingatkan agar praktik menitipkan doa tidak berubah menjadi sesuatu yang justru memberatkan jemaah. Ia menekankan bahwa permintaan doa sebaiknya disampaikan secara sederhana dan tidak berlebihan.
"Minta doa boleh... tapi jangan repotkan, doanya satu gembok begitu, tidak kebaca nanti bingung. Serahkan suruh doain gitu saja. Kalau suruh baca (kertas), tidak harus seperti itu, ngerepoti itu," ujar Buya Yahya, mengutip video di kanal YouTubenya, Sabtu 11 April 2026.
Pesan tersebut mengandung makna agar masyarakat tidak memberikan daftar doa panjang yang harus dibacakan secara rinci. Jika satu orang saja memberikan daftar panjang, mungkin masih bisa ditangani. Namun, bayangkan jika ratusan bahkan ribuan orang melakukan hal serupa, tentu hal ini akan mengganggu kekhusyukan dan fokus ibadah jemaah di Tanah Suci.
Oleh karena itu, cukup meminta didoakan secara umum, seperti keselamatan, keberkahan, atau harapan dapat menyusul berhaji.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Bolehkan Titip Oleh-oleh?
Selain soal doa, Buya Yahya juga menyoroti kebiasaan lain yang kerap terjadi, yakni meminta oleh-oleh kepada jemaah haji. Ia menilai budaya tersebut sebaiknya dihentikan karena berpotensi menimbulkan beban tambahan bagi jemaah, baik dari sisi barang bawaan maupun tekanan psikologis.
Halaman Selanjutnya
Permintaan oleh-oleh yang tampak sederhana bisa menjadi masalah besar ketika jumlahnya banyak. Beban bagasi menjadi berat, dan jemaah bisa merasa tidak enak jika tidak mampu memenuhi permintaan tersebut. Bahkan, dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat mendorong seseorang untuk berbohong karena merasa terpaksa.

2 weeks ago
13



























