Bolehkah Titip Oleh-oleh pada Jemaah Haji? Ini Penjelasan dan Etikanya Menurut Ulama

2 weeks ago 15

Minggu, 12 April 2026 - 09:10 WIB

Makkah, VIVA – Tradisi seputar keberangkatan ibadah haji di Indonesia tidak hanya identik dengan doa dan pelepasan, tetapi juga kebiasaan menitipkan oleh-oleh kepada jemaah yang akan berangkat ke Tanah Suci. Meski terlihat sepele, praktik ini ternyata menyimpan sejumlah persoalan dari sisi etika dan kenyamanan bagi para jemaah.

Pendakwah kondang Buya Yahya menyoroti fenomena ini sebagai kebiasaan yang sebaiknya mulai ditinggalkan. Scroll lebih lanjut yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia menilai, meminta oleh-oleh justru berpotensi menambah beban jemaah haji, baik secara fisik maupun psikologis.
Permintaan oleh-oleh yang tampak sederhana, seperti sajadah, kurma, atau air zamzam, bisa menjadi masalah ketika jumlahnya menumpuk. Setiap jemaah memiliki batas kapasitas bagasi yang harus dipatuhi. Jika banyak orang menitipkan barang, beban bawaan tentu menjadi semakin berat dan berisiko mengganggu kenyamanan selama perjalanan.

Tidak hanya itu, tekanan sosial juga kerap muncul. Jemaah mungkin merasa tidak enak hati jika tidak mampu memenuhi permintaan tersebut. Dalam kondisi tertentu, situasi ini bahkan bisa mendorong seseorang untuk memberikan alasan yang tidak sepenuhnya jujur demi menghindari rasa sungkan.

Sebagai alternatif yang lebih bijak, Buya Yahya justru menganjurkan agar masyarakat membalik kebiasaan tersebut. Alih-alih meminta sesuatu, ia menyarankan untuk memberikan dukungan kepada jemaah yang akan berangkat.

"Jangan minta hadiah, minta doa selesai. Kemudian Anda kasih duit. Kami ingin menghilangkan budaya gampang orang minta," ujar Buya Yahya, mengutip video di kanal YouTubenya, Minggu 12 April 2026.

Anjuran ini sejalan dengan semangat saling membantu dalam Islam, di mana orang yang hendak menjalankan ibadah besar seperti haji justru layak mendapatkan dukungan, bukan tambahan beban.

Bagaimana dengan Titip Doa?

Di sisi lain, tradisi menitipkan doa tetap diperbolehkan dalam syariat. Buya Yahya menjelaskan bahwa meminta doa kepada orang yang sedang berhaji memiliki dasar dari ajaran Nabi Muhammad SAW. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam sebuah riwayat, ketika Umar bin Khattab hendak berangkat ke Tanah Suci, Nabi Muhammad SAW pernah berpesan: "Bawa aku dalam doamu."

Meski demikian, etika tetap harus dijaga. Permintaan doa sebaiknya disampaikan secara sederhana tanpa membebani jemaah dengan daftar panjang.

Halaman Selanjutnya

"Minta doa boleh... tapi jangan repotkan, doanya satu gembok begitu, tidak kebaca nanti bingung. Serahkan suruh doain gitu saja. Kalau suruh baca (kertas), tidak harus seperti itu, ngerepoti itu," ujar Buya Yahya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |