Kamis, 21 Mei 2026 - 11:00 WIB
VIVA –Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BOP) bentukan Presiden Donald Trump pada Januari lalu kini menghadapi krisis keuangan serius. Kondisi ini mengancam rencana ambisius pembangunan kembali Gaza senilai 70 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.141 triliun.
Melansir laman Al Jazeerah, Kamis 21 Mei 2026, BoP baru-baru ini melaporkan adanya kesenjangan antara ekonomi dan pencarian nyata di lapangan. Mereka memperingatkan adanya krisis likuiditas mendesak, menurut laporan Reuters.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Namun, sejumlah pengamat bantuan internasional untuk Palestina menilai masalah ini bukan sekadar persoalan administrasi. Mereka menyebut banyak negara Arab dan Eropa enggan menyalurkan dana karena struktur dewan yang kontroversial, tidak adanya arah jelas menuju negara Palestina merdeka, serta operasi militer Israel yang masih terus berlangsung di Gaza.
Pakar bantuan internasional untuk Palestina, Moath al-Amoudi, mengatakan janji bantuan yang selama ini diumumkan lebih mirip pertunjukan politik ketimbang upaya kemanusiaan sungguhan.
“Dari total janji bantuan sebesar 17 miliar dolar AS atau sekitar Rp277 triliun, jumlah dana yang benar-benar sampai ke lapangan sejauh ini nol,” kata al-Amoudi kepada Al Jazeera.
Menurutnya, para donor takut terlibat dengan BoP yang disebut tidak memiliki visi politik jelas dan hanya memperlakukan Gaza sebagai wilayah protektorat keamanan Amerika Serikat.
Janji Bantuan yang Tak Pernah Tuntas
Al-Amoudi menjelaskan bahwa kesenjangan antara janji bantuan dan pencairan dana sebenarnya sudah lama terjadi dalam isu Palestina. Namun, Amerika Serikat disebut memiliki rekam jejak yang buruk dalam hal ini.
Setelah Kesepakatan Oslo tahun 1993, komunitas internasional hanya memenuhi sekitar 70 persen dari komitmen bantuan mereka. Kesepakatan yang dimediasi AS itu membuat Palestina dan Israel untuk pertama kalinya saling mengakui dan melahirkan Otoritas Palestina untuk mengelola Tepi Barat.
Namun, seiring waktu, pemerintahan Israel disebut terus berusaha melemahkan perjanjian tersebut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Saat itu, AS berada di posisi ketiga dalam pencairan bantuan, jauh di bawah Uni Eropa yang memenuhi lebih dari 95 persen komitmennya, serta negara-negara Arab.
Hal serupa terjadi usai perang Gaza tahun 2014. Dari total janji bantuan sebesar 2,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp44 triliun dalam konferensi di Kairo, hanya 46 persen yang benar-benar dicairkan dalam tiga tahun.
Halaman Selanjutnya
Kini situasinya dinilai jauh lebih rumit. Jika dulu bantuan diarahkan ke entitas politik resmi seperti Otoritas Palestina, Dewan Perdamaian saat ini justru dianggap mengesampingkan aspirasi politik rakyat Palestina.

3 weeks ago
14














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6284541/original/079194300_1779159392-unnamed__42_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5575090/original/094355400_1778037587-cropped-6b94bc59-8fb4-4b76-874b-71a6a7262057.jpg)