Bos Amazon Bantah PHK 14.000 Karyawan karena AI, Ini Alasan Sebenarnya

21 hours ago 1

Jumat, 23 Januari 2026 - 21:00 WIB

Jakarta, VIVA – Perusahaan teknologi multinasional raksasa asal Amerika Serikat (AS), Amazon, kembali bersiap melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran mulai akhir bulan Januari 2026. Chief Executive Officer (CEO) Amazon, Andy Jassy, menegaskan pemangkasan ini bukan karena faktor finansial akibat dampak adopsi kecerdasan buatan (AI). 

Perusahaan diperkirakan akan memberhentikan sekitar 14.000 posisi karyawan yang menyasar sejumlah divisi utama. Gelombang PHK ini menjadikan pemecatan terbesar kedua sejak bulan Oktober 2025, yakni memangkas sekitar 14.000 karyawan kerah putih (white collar).

Karyawan di Amazon Web Services (AWS) sebagai perusahaan yang mengoperasikan ritel, Prime Video, hingga divisi sumber daya manusia (People Experience and Technology/PXT) disinyalir masuk bursa PHK. 

Lebih lanjut, PHK ini merupakan bagian dari rencana pemangkasan tenaga kerja  menjadi sekitar 30.000 posisi. Bahkan dinobatkan sebagai PHK terbesar dalam sejarah Amazon selama lebih dari tiga dekade beroperasi secara multinasional.

CEO Amazon Andy Jassy membantah anggapan bahwa PHK dilakukan semata-mata karena tekanan efisiensi biaya atau dampak kecerdasan buatan (AI). Dalam paparan kinerja kuartal III-2025, Jassy menegaskan alasan utama restrukturisasi justru berkaitan dengan budaya kerja internal perusahaan.

“Ini sebenarnya bukan didorong oleh alasan finansial dan bahkan bukan karena AI. Ini soal budaya,” ujar Jassy dikutip dari Times of India pada Jumat, 23 Januari 2026.

Jassy menyampaikan, Amazon tengah menghadapi persoalan birokrasi berlebihan dan organisasi yang terlalu 'gemuk'. Ia menegaskan, pemangkasan tenaga kerja bertujuan memangkas lapisan manajemen dan mengembalikan kelincahan perusahaan layaknya perusahaan rintisan.

Secara proporsional, rencana PHK ini mencakup hampir 10 persen dari sekitar 350.000 karyawan Amazon. Meski demikian, jumlah tersebut hanya mewakili kurang dari 2 persen dari total 1,58 juta tenaga kerja secara global yang sebagian besar bekerja di gudang dan pusat pemenuhan pesanan.

Senior Vice President PXT Amazon, Beth Galetti, mengakui adanya paradoks di tengah kinerja bisnis yang solid. Ia menyamapikan daya saing jangka panjang menuntut perusahaan untuk beroperasi lebih ramping dengan lapisan yang lebih sedikit dan tanggung jawab yang lebih besar.

Amazon akan memberikan dukungan kepada para karyawan yang terdampak gelombang PHK terbaru. Mulai dari pesangon, layanan penempatan kerja, serta perpanjangan asuransi kesehatan.

Kepala Eksekutif Meta, Mark Zuckerberg.

Gelombang PHK Massal di Meta Dimulai, Lebih dari 300 Pekerja Terdampak

Meta melakukan PHK 331 karyawan di Washington sebagai bagian dari pemangkasan besar Reality Labs, menandai pergeseran fokus dari metaverse ke AI.

img_title

VIVA.co.id

22 Januari 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |