BPS Sebut Perhiasan hingga Besi Baja Bikin Ekspor RI Anjlok 5,73 Persen di Mei 2026

2 weeks ago 4

Rabu, 1 Juli 2026 - 13:03 WIB

Jakarta, VIVA – Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono melaporkan, ekspor Indonesia mencapai sebesar US$23,20 miliar pada Mei 2026, atau turun 5,73 persen secara year-on-year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun 2025 lalu.

Dia memaparkan, penurunan terjadi pada ekspor migas dan non-migas, dimana nilai ekspor migas sebesar US$760 juta atau turun 31,76 persen, sementara ekspor non-migas sebesar US$22,45 miliar atau turun 4,50 persen.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Penurunan ekspor secara tahunan pada Mei 2026 ini, utamanya dipicu oleh melemahnya ekspor sejumlah komoditas non-migas," kata Ateng dalam telekonferensi pers, Rabu, 1 Juli 2026.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono

Photo :

  • [tangkapan layar]

Dia merinci, komoditas non-migas yang berkontribusi dominan pada penurunan ekspor Mei 2026 yakni logam mulia dan perhiasan atau permata, yang anjlok 59,35 persen dan berkontribusi minus 2,93 persen terhadap total ekspor.

Kemudian ada pula komoditas bijih logam, terak, dan abu, yang juga anjlok 99,25 persen dan berkontribusi negatif 2,37 persen, serta besi dan baja yang anjlok 14,68 persen dengan kontribusi minus 1,67 persen.

Namun, Ateng memastikan bahwa secara kumulatif, kinerja ekspor nasional di sepanjang Januari-Mei 2026 masih tercatat mengalami pertumbuhan. Dimana, total nilai ekspor Januari-Mei 2026 tercatat sebesar US$115,36 miliar, tumbuh 3,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dia menjelaskan, kenaikan itu disumbang oleh ekspor non-migas yang tumbuh 3,89 persen menjadi US$110,19 miliar, meskipun ekspor migas anjlok 12,71 persen menjadi US$5,17 miliar.

Ateng menjelaskan, peningkatan ekspor non-migas sepanjang Januari-Mei 2026 utamanya ditopang sektor industri pengolahan, dengan kontribusi dominan sebesar 5,38 persen dari total kenaikan ekspor di periode tersebut.

"Dengan produk yang menjadi penopangnya yakni hasil olahan nikel, minyak kelapa sawit, kimia dasar organik berbasis hasil pertanian, kimia dasar anorganik lainnya, serta semi aluminium," ujar Ateng.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dia menambahkan, jika dilihat dari negara-negara tujuan ekspor, Tiongkok masih menjadi pasar utama ekspor Indonesia dengan nilai ekspor non-migas mencapai US$28,54 miliar, atau tumbuh 17,68 persen dibandingkan periode Januari-Mei 2025.

"Dan jika dilihat secara keseluruhan, ekspor non-migas ke lima negara dan kawasan tujuan utama masih mencatat pertumbuhan pada Januari-Mei 2026, sementara ekspor ke negara dan kawasan lainnya mengalami penurunan," ujarnya.

Aktivitas di Terminal Peti Kemas (TPK) Pelabuhan Tanjung Emas Semarang

Tren Surplus Berakhir, Neraca Perdagangan RI Defisit US$1,61 Miliar di Mei 2026

Dia menjelaskan, defisit neraca perdagangan sebesar US$1,61 miliar itu terjadi akibat impor yang mencapai US$24,81 miliar, sementara ekspor hanya sebesar US$23,20 miliar.

img_title

VIVA.co.id

1 Juli 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |