Jakarta, VIVA – Harga motor listrik di Indonesia semakin beragam, sementara pemerintah juga mulai mendorong skema cicilan dengan bunga lebih rendah hingga pembelian tanpa uang muka. Namun, membuat motor listrik lebih mudah dibeli ternyata bukan sekadar soal menurunkan besaran cicilan.
Di balik pertumbuhan pembiayaan kendaraan listrik, perusahaan multifinance masih menghadapi sejumlah pertimbangan sebelum memperbesar penyaluran kredit. Salah satu persoalan terbesarnya justru berkaitan dengan seberapa mudah nilai sebuah motor listrik dipertahankan setelah digunakan beberapa tahun.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan pembiayaan kendaraan listrik oleh industri multifinance tumbuh 34,7 persen secara tahunan menjadi Rp24,60 triliun pada Juni 2026. Meski demikian, pertumbuhan tersebut belum membuat pembiayaan seluruh jenis kendaraan listrik berkembang dengan tingkat kematangan yang sama.
Laporan RMI berjudul Mobilizing Electric Two-Wheeler Finance in Indonesia menemukan pembiayaan motor listrik masih terkonsentrasi pada sejumlah perusahaan multifinance. Keterlibatan langsung bank komersial juga masih terbatas karena terdapat sejumlah risiko yang belum mudah dihitung oleh pemberi pembiayaan.
RMI mengidentifikasi tiga persoalan utama yang memengaruhi keputusan kreditur, yakni risiko produk dan teknologi, nilai jual kembali, serta ketidakpastian permintaan dan kebijakan. Ketiga faktor tersebut membuat perusahaan pembiayaan tidak hanya mempertimbangkan kondisi motor saat baru dibeli, tetapi juga prospeknya selama masa cicilan hingga ketika aset tersebut kembali dijual.
Risiko produk misalnya berkaitan dengan perbedaan kualitas kendaraan, ketahanan baterai, rekam jejak produsen, dan ketersediaan layanan purna jual. Sementara itu, pasar motor listrik bekas yang belum matang membuat nilai kendaraan setelah beberapa tahun digunakan masih sulit diperkirakan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Persoalan baterai menjadi salah satu faktor penting dalam kondisi tersebut. Belum adanya metode yang digunakan secara luas untuk menilai kesehatan baterai membuat perusahaan pembiayaan lebih sulit menentukan nilai aset motor listrik ketika kendaraan sudah berpindah tangan.
Ketidakpastian tersebut kemudian dapat memengaruhi skema kredit yang ditawarkan kepada konsumen. RMI menilai kombinasi berbagai risiko itu berpotensi mendorong uang muka lebih tinggi, tenor lebih pendek, kemitraan yang lebih selektif dengan produsen, hingga portofolio kredit yang lebih kecil.
Halaman Selanjutnya
Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia atau AISMOLI, Budi Setiyadi menilai pembiayaan motor listrik tidak cukup hanya dibuat murah. Menurutnya, kendaraan yang dibiayai juga harus menjadi aset yang semakin mudah dipercaya dan dinilai oleh perusahaan pembiayaan.

2 days ago
2
















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9310865/original/081850900_1785378315-cropped-2d7f636b-2380-40cc-a881-ea61c56069f5.jpg)

