Bupati Purwakarta Om Zein Akhirnya Angkat Bicara soal Lagu 'Lalaki Langit Lalanang Bejad': Ya Maafin Deh...

1 week ago 13

Kamis, 2 Juli 2026 - 14:10 WIB

Jakarta, VIVA – Kontroversi lagu "Lalaki Langit Lalanang Bejad" yang dibawakan sekaligus diperkenalkan oleh Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein masih terus menjadi sorotan publik. Setelah menuai kritik dari Atalia Praratya dan memicu gelombang komentar dari warganet, kini Om Zein akhirnya buka suara melalui unggahan terbaru di akun Instagram pribadinya.

Dalam pernyataannya, Om Zein menegaskan bahwa lagu tersebut bukan ditujukan untuk merendahkan perempuan. Ia menyebut seluruh isi lagu merupakan cerminan perjalanan hidupnya sendiri sehingga meminta masyarakat membaca keseluruhan lirik agar tidak terjadi salah tafsir.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Lagu saya yang berjudul 'Lalaki Langit Lalanang Bejad' itu murni cerita tentang kisah hidup diri saya sendiri," ungkapnya, sebagaimana dikutip dari Instagram, Kamis, 2 Juli 2026.

"Coba bolak balik baca syair nya secara utuh jangan dipotong2 ya guys. Supaya tafsir dan makna nya tidak salah," tulisnya membela diri. 

Pria yang akrab disapa Om Zein ini juga meminta maaf jika lagunya tersebut menyinggung banyak pihak. "Tapi jika ada pilihan kata yang dianggap bikin tidak nyaman bagi pihak tertentu ya maafin deh…." tutupnya. 

Pernyataan tersebut menjadi respons pertama Om Zein setelah akun media sosialnya beberapa hari terakhir dibanjiri kritik dan desakan agar memberikan penjelasan terkait lagu yang dianggap mengandung lirik kontroversial.

Sebagaimana diketahui, polemik lagu tersebut mencuat setelah Atalia Praratya mengunggah kritik melalui media sosialnya. Menurut Atalia, ia tidak menemukan makna yang menunjukkan penghormatan terhadap perempuan dalam lagu tersebut.

"Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan," katanya. 

Atalia menilai persoalan tersebut bukan sekadar kebebasan berekspresi, tetapi juga menyangkut nilai budaya Sunda yang selama ini menjunjung tinggi penghormatan terhadap sesama.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah... Dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan... Mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih?" sambungnya. 

"Sebodoh apa pun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi.. Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," tegas Atalia. 

Halaman Selanjutnya

Ia juga mempertanyakan mengapa narasi yang dianggap patriarkal justru muncul dari seorang kepala daerah. "Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?"

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |