Data Center Indonesia bakal 'Meledak' kalau Enggak Pakai Teknologi Ini

3 weeks ago 7

Rabu, 20 Mei 2026 - 20:45 WIB

Jakarta, VIVA - ‎Kebutuhan pusat data (data center) di Indonesia melonjak drastis seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan cloud computing, mendorong industri beralih dari teknologi pendingin berbasis udara ke liquid cooling sebagai solusi infrastruktur masa depan.

‎‎"Semua data center itu sudah mengarah ke AI data center. Artinya hampir semua data center akan berubah infrastrukturnya dari yang tadinya air cooled sekarang jadi liquid cooled," kata Business VP Data Center Schneider Electric Indonesia Ellya Cen di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

‎‎Pergeseran itu tak lepas dari lonjakan kebutuhan daya komputasi yang luar biasa. Kebutuhan daya per rak server terus meningkat drastis seiring hadirnya chip-chip AI generasi terbaru yang semakin padat dan panas.

‎‎"Yang tadinya 3 kilowatt jadi 120 kilowatt. Dan tahun ini kuartal ketiga akan keluar Rubin server, satu raknya itu 600 kilowatt," kata Ketua IDPRO Hendra Suryakusuma.

‎‎Lonjakan panas itulah yang membuat pendingin udara konvensional tidak lagi memadai, 70 persen panas di data center bersumber dari server, sehingga mendinginkan seluruh ruangan menjadi cara yang tidak efisien.

‎‎Liquid cooling bekerja dengan mengalirkan campuran air dan glikol langsung ke chip server melalui sistem yang dikenal sebagai direct to chip. Dengan kapasitas hingga 2,3 megawatt per unit, teknologi ini jauh melampaui pendingin udara konvensional yang paling besar hanya mampu menangani 500 kilowatt.

‎‎"Liquid cooling ini menjadi sesuatu yang sangat penting, karena untuk load per rak itu sudah luar biasa meningkat dibandingkan zaman dahulu yang mungkin cuma 13 kilowatt, sekarang sudah lebih dari 130 bahkan nanti mau lebih lagi," ujar Ellya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

‎‎Pertumbuhan industri data center Indonesia sendiri mencerminkan besarnya kebutuhan tersebut. IDPRO yang berdiri pada 2016 hanya mengelola 32 megawatt dari 5 anggota, kini telah berkembang menjadi 21 anggota dengan kapasitas operasional sekitar 520 megawatt.

‎‎Secara nasional, total kapasitas terpasang Indonesia sudah melampaui 600 megawatt dan diproyeksikan mencapai 1,6 gigawatt pada akhir 2026. Potensi ini didukung oleh proyeksi internet economy Indonesia yang diperkirakan mencapai 350 miliar dolar pada 2030, menjadikannya yang terbesar di Asia Tenggara.

Halaman Selanjutnya

‎‎Derasnya investasi global turut mendorong ekspansi ini. Posisi geopolitik Indonesia yang stabil membuat banyak investor mengalihkan perhatian ke Indonesia, termasuk sejumlah pemain besar yang menaikkan komitmen investasinya secara signifikan.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |